Kau yang kupikirkan tiap hari
Kau yang kuimpikan di malam sunyi
Yang ingin kujadikan tempat berbagi bersama
Baik hal-hal sedih maupun bahagia
Kau candu
Seperti kafein
Yang kutegak secara berkala
Yang membuatku tetap terjaga
Yang membuatku bahagia
Kau candu
Bukan seperti nikotin
Yang masih bisa kutahan godaannya
Bukan seperti narkotika
Yang dapat kuhitung
Keuntungannya
Kerugiannya
Untukmu
Dapatkah kuaplikasikan prinsip utilitarianisme?
Yang dapat kuperbuat adalah
Menjadi diriku
Yang terkena candu dirimu
Kau yang muncul dalam lamunanku
Yang menjadi bayang-bayang semu dalam mimpiku
Yang menjadi subyek barisan puisiku
Yang menghidupkan jiwa pujanggaku
Kau adalah memori yang tak terhapus dari amygdala
Matahariku dalam teori heliosentris
Namun memori manis itu berubah menjadi pahit
Dan matahari tak hanya terbit, namun juga terbenam
Lihatlah
Meracau diriku kau buat
Candu yang begitu kuat
Membuat pikiranku terbawa pergi
Memainkan ulang hari-hari itu lagi
Kau adalah kotak pandora
Kotak keramat yang t’lah kubuka
Segala kemugkinan buruk telah terjadi
Entah apa lagi
Yang dapat membuatku semakin terpuruk
Namun dalam cerita
Tersisa sebuah harapan
Dan memang harapan itu tersimpan rapat
Kugenggam erat
Karena hanya itulah yang tersisa
Kau adalah candu
Yang menghancurkan cerebellum hidupku
Membuat fokusku timpang
Tak jarang kutemukan pikiranku melayang
Ya, kembali ke pikiran tentangmu
Karena kau telah merusak keempat lobusku

Lobus frontal yang tak dapat mencari alasan
Mengapa rasa ini masih ada sampai sekarang

Lobus pariental yang kelewat sensitif
Bahkan tanpa tekanan kau membuatku merasakan sakit

Lobus temporal yang menjadi kacau
Kemampuanku mendengar dan berbahasa selalu terdegradasi
Tiap kali ku memikirkan kau
Dan lobus occipital yang telah kau buat rusak
Karena setiap mataku melihatmu
Retinaku seolah melihat ilusi
Karena yang kutangkap adalah kesempurnaan
Dan memang kau banyak memiliki kekurangan
Namun kau lebih banyak memiliki kelebihan
Dan, sesuai namamu
Mungkin memang diri ini berhasil kau taklukan
Karena kau telah membuatku ketagihan
Karena kau telah menjadi candu

————————-
Maaf banyak gombalan dan selipan biologi. Kalau gak suka… ya masalah lo juga. Toh puisi ini lampiasan perasaan gue. Dengan dramatisasi, tentunya. Gue gak sampai tergila-gila gitu, kok.

But, yeah, I’m not completely over him. Yet. ;)
Advertisements