Yah, mungkin ternyata blog ini bakalan didominasi oleh post Bahasa Indonesia. Tak dapat dipungkiri bahasa nusa bangsa memang lebih enak dipakai karena lebih terbiasa. Bahkan kesamaan bahasa itu jadi faktor timbulnya rasa solidaritas dan multikulturalisme di Indonesia (maaf, gue gabisa menahan godaan nyelipin pelajaran). Tapi untuk beberapa bagian post “penting” sih, rasanya bisa-bisa gue bikin dalam dua bahasa. Sekalian nambah jumlah post juga, sih, hehe….

So, gue mau nanya, have you ever had gang issues? Gue gak lagi ngomongin semacem mafia atau kelompok Yakuza. Gila aja, member mafia macam apa yang kalau ada waktu luang baca blogmacam gini? Oke, oke, post ini udah kelewat out of topic.
Jadi, gini, loh, ceritanya… di sekolah gue (terutama angkatan gue, dan bagi kalian yang satu sekolah sama gue, tolong jangan menyangkal) banyak banget geng-geng yang dibentuk. Mungkin itu normal, tapi kalau geng-geng itu mulai pake nama-nama, gimana? Secara pribadi, gue ogah banget liatnya, walau dulu gue juga bikin grup POPS (Perkumpulan Orang-Orang Pulang Sore), sih. Kalau gue mau beralasan ya bisa aja. Manusia itu kalau harus membela diri, sejelek apapun nilai rapotnya, setolol apapun di anggap orang, pasti naluri berdebatnya nongol mendadak.
Hmm… tiba-tiba gue bingung, mau mulai nulis darimana, ya? Apa harus gue jelaskan sejarah terbentuknya semua geng ini? Tapi frontal pun perlu ada batasnya. Yasudahlah, gue bakal pake alias aja biar keliatan keren dan menjaga privasi. Walau gue yakin bagi yang bersangkutan langsung udah hafal mati bangkit lagi ceritanya itu gimana.
Disebutlah geng A yang hobi pulang sore. Mulai dari main petak-umpet, petak-jongkok, TOD (truth or dare) yang aturannya divariasikan sesuka jidat, curhat gajelas, menghina kekonyolan segala hal, dll. Geng ini terbentuk saat SMP, diisi makhluk-makhluk yang latar belakangnya itu lumayan berbeda, tapi kecantol entah gimana caranya. Sampai sekarang pun semua anggotanya masih bingung kenapa geng ini kalau dikumpulin masih akur. Biarlah itu menjadi misteri.
Lalu ada geng B. Isinya adalah belasan anak lelaki yang hobi berkonyol-ria dan menginap di villa salah satu anggotanya. Tentu saja ada kegiatan normal lainnya; main game, masak bareng (mau gamau, Bung, mau delivery apa di Puncak?), bercanda, dan sebagainya.
Yang terakhir adalah geng C, terbentuk saat SMA. Isinya… kumpulan semua kecuali satu anak cowok dan dua cewek dari satu kelas. Their common denominator? Games. Mau itu game macam PS atau game online. Anime juga faktor pendukung yang kuat atas hubungan solidaritas in-group mereka yang kuatnya gak ketolong. Bahkan, saking kuatnya sampai kalo ada anggota yang bergaul terlalu banyak ama kelompok lain (kecuali kalau urusan sekolah), anggota itu pasti kena makian baik langsung maupun lewat grup chat di BBM.
Jadi ketiga grup ini melebur menjadi satu bagai leburan adonan kue (lho?) akibat banyaknya hubungan mutual friends yang ada. Kalau lo gak ngerti konsepnya, gue jelasin. Gue yang ada di grup A punya temen di grup C. Nah, temen gue punya temen di grup B. Secara satu sekolah dan satu angkatan ya kalau gue, dia, dan temennya lagi ada di satu tempat teman-teman kita yang lain ikutan nongkrong bareng. Maka terbentuklah grup U, dan sampai saat post ini disebarkan di dunia maya, anggota grup ini masih memiliki predikat anggota terbanyak.
Ada juga grup-grup lain yang terbentuk, antara karena iri, iseng, mau sok menghina grup yang ada jadinya ikutan, atau entah alasan apa lagi. Yang pasti saat kata-kata ini sedang gue ketik, grup yang gue tau ada (inisial aja, ya) iU, RHG, WTG, BB, BG, HP, dan ada juga grup-grup unofficial lain. Yang membedakan? Ada-tidaknya nama.
Tapi, saat sebuah grup meresmikan nama, ya pasti bakal ada “peraturan”. Untuk beberapa geng perlu gue tekankan, anak luar pasti bakal ngerasa tersingkirkan, baik itu disengaja maupun kaga oleh para anggota grup.
Daftar masalah yang timbul nggak perlu gue kasih rasanya, karena gue yakin lo bisa memikirkan sendiri dengan tingkat intelek yang lo miliki (halah, bilang aja males ngetik terlalu panjang).
Yang pasti, nyari temen jadi ribet. Buat gue yang setengah wallflower—maksudnya gue mengerti orang-orang yang ada itu kepribadian dan konfliknya bagaimana tapi ga terlalu mendalam dan gue ga 100% invisible—itu berarti gue harus mengubah pola pertemanan gue yang luas tak dalam menjadi sempit dan gitu-gitu aja, karena gue harus menentukan grup/geng mana yang akan menjadi prioritas gue. Dan, ya, gue menjatuhkan pilihan gue pada sebuah geng yang tadinya adalah kumpulan sekunder gue. Believe me, I’ll be hanging out with introverts throughout my entire life.Pasalnya, orang introvert itu bisa menerima kehadiran orang lain, dan kalau orang lain yang tadinya asing ngedeketin, biasanya mereka terima-terima aja.
Ironisnya, grup yang anggotanya paling banyak tadi awalnya adalah grup yang menentang geng eksklusif, dan sekarang mereka malah jadi geng yang paling susah untuk ditembus. Gak cukup sekedar punya minat yang sama. Kalau lo gak bener-bener fit in, lo gak bakal merasa diterima.
Banyak, sih, yang melakukan perlawanan. Gue tau beberapa orang yang bakal melonjak kegirangan andaikan grup itu bubar. Dan mereka ngaku-ngaku kalau mereka lebih pilih berteman dengan siapa saja. Bullshit. No one’s that friendly. No one’s capable of living like that.

Jadi, sekarang, tugas gue yang gue bebankan (dengan tololnya atau polosnya, gue gatau) pada diri sendiri adalah mencegah grup-grup bertambah atau semakin parah. How? Well, pertama-tama, gue harus membebaskan diri dari grup bernama dan mempertahankan ikatan yang masih layak dan bisa diselamatkan. Lalu gue harus membeberkan omelan gue pada mereka yang belum memiliki geng. Gue juga harus memperluas lagi jaringan orang-orang yang bisa gue ajak ngobrol karena luas teman ngobrol sama dengan luas pergaulan.
Mungkin gue juga harus memfungsikan kembali bakat gue dulu waktu SMP. Gue sering menemukan orang-orang yang berpotensi jadi teman dekat. Sekarang bakat itu terkubur karena gue males harus bergaul di antara dua grup di saat yang bersamaan dan lebih memilih membagi waktu, walau agak ribet juga sih realisasinya. Belom lagi faktor grup-isme tadi.
Yah, hidup itu pilihan, kan? Pergaulan juga pilihan pribadi, sih. Tapi… ga ada salahnya gue mencoba mengendurkan antipati antar grup. *sigh* Wish me luck.
Advertisements