Hai. Tahun baru mulai mendekat. Bagaimana dengan resolusi tahun barumu tahun lalu? Apakah telah dicapai? Atau masih sedang ditempuh? Atau resolusi itu telah menjadi debu dalam kalbu?

Terkadang diri ini bingung. Beramai-ramai orang membuat resolusi. Untuk tahun depan, pun tahun-tahun yang akan mendatang. Seolah-olah tekad akan membulat dengan adanya secarik tulisan. Seolah-olah target yang dicatat pena takkan hilang dari ingatan.

Terkadang diri ini bingung. Beramai-ramai orang berdiskusi. Seolah-olah apa yang dibicarakan pasti terjadi. Seolah-olah malang takkan melintang jika telah terlebih dulu diharap urung.

Resolusi itu… komitmen. Sesuatu yang masih belum bisa gue lakukan. Sebagian besar komitmen gue gagal. Untuk taat pada orang tua, belajar, menyelesaikan suatu karya (entah berapa buku sudah yang habis, tak lagi ditulisi. Hanya menunggu dengan pasrah). Sayang kadang dijadikan semacam tren. Memangnya orang yang nggak punya resolusi itu orang yang bagaimana? Banyak yang mencap sebagai dia  yang tak memiliki motivasi untuk maju.

Nyatanya, saat ditanya, banyak jawaban yang standar.

“Gue mau jadi orang yang lebih baik dari tahun ini.”

“Gue mau ningkatin nilai.”

“Lebih rajin belajar.”

“Saat teduh (ibadah, lah) tiap hari.”

Lalu untuk apa resolusi itu? Sebagian besar terlupakan. Ditulis lalu terbuang. Dilihat setiap hari dan diabaikan. Beralasan. “Mulai besok akan kulakukan.”

Resolusi itu suatu tekad. Janji. Komitmen. Tiada dari tiga itu untuk main-main. Gue sendiri nggak pernah bikin resolusi. Selain waktu SD. Dan itu karena harus.

Apa itu berarti gue takut komitmen? Mungkin. Entahlah. Yang pasti, kalau gue punya tekad yang benar-benar udah gue pikirkan matang-matang, nggak akan “sekedar” gue tuangkan hanya di atas secarik kertas atau post dalam blog.

Advertisements