Sesungguhnya gue nggak tahu kenapa bisa menulis begini tengah malam tadi. Entah ini atas desakan apa, untuk siapa… gue nggak tahu. Yang pasti saat gue susah tidur karena ingin menulis lima kalimat pertama di atas kertas, pensil gue menggoreskan dirinya. Dan jadilah lamunan tengah malam ini. Selamat menikmati. :)


Ia seperti bintang kecil yang tertutup polusi. Kau perlu mencari sampai tak ada lagi ramai. Barulah ia memperlihatkan kerlipnya.

Ia tak terkenal, tak menjadi buah bibir banyak orang. Namun ia menjadi yang pertama yang ku cari kala malam datang.

Binarnya tak terlalu terang. Rapuh, malah. Namun, itulah yang membuatnya nampak kian indah. Tiap kerlip bagai degup jantung. Bisikan bisu yang hampir tetapi tak pernah sampai di telingaku. Biarlah. Biar apapun itu menjadi rahasia. Sama seperti ia adalah rahasia yang tak ingin kubagi.

Bintang kecilku tak ada namanya. Lalu bagaimana aku mengenalnya? Dengan melihat. Ia selalu sendiri. Walau ku tahu jarak antar bintang tak terbayang, ia selalu terlihat kesepian. Mungkin itulah alasan aku menemaninya. Saling mengusir sepi. Tanpa sepatah kata pun terucap.

Kau tahu? Berteman dengan bintang memang menyenangkan. Namun aku takut.

Aku takut kehadirannya saja takkan cukup. Padahal aku tahu pasti jika aku mencoba mendekat aku akan terbakar.

Aku takut kehadirannya bahkan tak terasa. Ia akan selalu terlihat dalam gelap, tetapi bagaimana cara melihatnya dalam silau terang?

Aku takut orang lain akan menemukannya. Diam-diam, ia akan membagi waktunya, tak hanya untukku seorang. Terlebih jika bintang lain muncul di dekatnya dan ia tak menginginkanku lagi.

Aku takut suatu saat nanti aku akan berhenti mencarimu. Lalu kau berhenti menungguku. Lalu aku tak mampu lagi membedakan kerlipmu.

Aku takut suatu hari nanti cahayamu mati. Dan aku tak akan tahu sebelum semuanya terlambat. Kau telah lama pergi dan aku menganggapmu masih ada.

Bintang kecilku, berjanjilah sesuatu padaku.

Jangan pergi.

Advertisements