Tawamu hampa,
senyummu pedih.
Kau berkata “aku bahagia”
namun itu hanya
oksimoron.

Kaut tak pernah lelah bermuram durja
dan tak mencari suka ria.
Katamu wajah sedih membuat hati lega.
Aku ingin tahu jawabanmu
jika aku berkata
aku sedih melihatmu begitu.

Aku munafik.
Aku sendiri begitu.

Sakit ini candu
bagai kopi yang kutegak tanpa gula.
Kuhadapi hidup;
manis-pahit apa adanya.

Aku berdusta.
Aku berdosa.

Aku tinggal dalam gelembung imaji,
khayalan yang tak belaka.
Dan hanya pedih di hati
yang kuat membawaku kembali
pada dunia.

Lucu.
Ironis.
Kebanyakan orang berbuat sebaliknya.

Aku terikat pada duka
yang memang realita.
Dengan sigap,
kusingkap
segala rahasianya
—segala kebenarannya.

Sungguh, aku tak apa.
Setidaknya sekilas pandangan mata.
Tetapi apa kau bisa menghibur diri ini?
Hmm… mungkin.

Sudahlah.
Diamlah.
Aku sudah terbiasa.
Tak perlu rasa iba.

“Aku bahagia” adalah oksimoron.
Aku adalah segala kesedihan
dalam hidup yang monoton.

Mungkin suatu hari tidak lagi.
Suatu hari nanti
—yang bukan hari ini.

Advertisements