Dalam rimba rima dan irama aku bersembunyi, menaklukan satu demi satu setiap ketakutanku untuk berbagi. Lewat kata-kata telah kubeberkan begitu banyak tanpa berkata terlalu banyak.

Menyenangkan sekali, menulis itu. Menjadi gerbang untuk bercerita. Seperti jurnal, tetapi kau tahu ada orang lain yang membaca. Dan selagi kau memilah kata-kata indah untuk mereka nikmati. Seperti hanya ada privasi orang lain yang membatasi.

Tetapi terkadang terdapat suara yang berbisik. Bahwa aku berbicara tanpa kata. Bahwa kata-kata yang dibaca oleh mereka yang tak terpengaruh atau berpengaruh sia-sia saja.

Benarkah?

Mari menilik: aku memang berbicara tanpa kata dalam satu cara; karena caraku berbicara tidak dengan mengungkapkan kata-kata, tetapi dengan menulis dan mengetik. Namun apa itu berarti kata-kataku kurang memiliki arti? Sesungguhnya, aku ingin mengatakan tidak dengan yakin. Andai saja aku benar-benar berpikir demikian.

Begini, pembaca yang setia; kata-kata bagiku adalah jalan menuju pelarian. Kata-kata selalu ada bagiku. Selalu begitu. Bahkan jika aku terkesima dan terdiam, aku tahu kata-kata itu tahu diri—mereka tak mau merusak momen dengan suara, dan langsung keluar dalam bentuk makian—seberapapun halusnya—jika mendengar suara jepretan. Kata-kata membantuku mendapatkan apa yang aku mau, menolak apa yang tak ku mau. Kata-kata yang bisa menyakitiku jugalah yang menjadi penghiburan bagiku.

Andai kata-kata berwujud manusia, aku mungkin sudah jatuh cinta sampai mati. Tetapi sampai mati aku tak akan percaya. Aku memiliki Tuhan, dan aku percaya Ia menciptakan kata-kata tanpa wujud agar tak bisa dikekang manusia.

Tetapi kata-kata yang tak dikekang kurantai. Ia tak bisa keluar kecuali ku utarakan, dan ia hanya keluar dalam bentuk seuntai kode untuk dibaca pemirsa yang hampir semua tak kukenal di dunia nyata. Lalu… apakah aku sungguh-sungguh sedang berbicara? Ya. Hanya tanpa kata. Dan tak pada mereka yang seharusnya.

Akhir-akhir ini aku sudah malas menghadapi konflik. Mungkin sekarang aku harus mempersiapkan diri lagi. Lebih baik aku dicela daripada disuruh diam. Toh aku bukannya tak tahu tempat.

Ya. Anggaplah ini resolusi tengah tahun. Aku harus menggunakan kata-kata sebagaimana mestinya lagi. Untuk bersuara. :)

Advertisements