Engkau tak kukenal lagi.

Rambutmu acak-acakan dan keriting bagai tanduk kambing. Samar-samar ada bau gosong. Sepertinya kau terlalu lama memakai catokan. Apa yang terjadi, kawan?

Kedua matamu terbuka namun tak melihat. Mereka terlihat bulat dan mengerikan, hasil lensa kontak yang kau pakai sebagai siasat. Awalnya untuk terlihat cantik, namun sekarang kau buta.

Bibirmu merah. Semerah darah. Dan ternyata memang darah yang kulihat menetes-netes. Kau torehkan pisau di sekujur mulutmu demi mendapat warnah merah yang sempurna.

Baumu tak manusia lagi, tertutup rias dan pewangi. Pewangi yang menghilangkan manusiamu.

“Aku sudah cantik, kan?”

Aku mengangguk, lupa sejenak kau tak bisa melihat. Tapi tanpa menunggu jawabku terdengar kau mulai terbahak. Di depanmu ada cermin dengan pantulan kesempurnaan; rambut ikal, mata bundar, bibir penuh dan merah menggoda.

Aku tak mau mengikuti jejak itu. Aku pun melangkah pergi, dengan kekeh tawa gilamu mengiringi.

Advertisements