Hari ini hati menyadari sesuatu. Ia ingin menetap dan tetap di tempat. Ia lelah. Ia mau pulang. Ia tak punya tempat untuk berpulang.

Tubuh memarahi hati. Katanya, rumah sudah menyediakan semua. Air hangat untuk mandi dan menggosok gigi, tempat untuk bermimpi. Juga dapur tempat mengolah untuk megisi perut dan sunyi untuk doa seraya berlutut. Tetapi bagi hati, ia ingin yang lebih lagi.

Otak tak memahami hati. Baginya, semua adalah rumah. Kau hanya perlu pulang ke dirimu sendiri untuk berpikir. Entah hal penting atau genting atau untaian imajinasi yang miring. Otak berkata rumah adalah konsep jasmani saja. Jika kau yakin kau sudah di rumah, kau sudah pulang. Namun bagi hati penjelasan tersebut tak memuaskan.

Jantung berdetak, berkumandang. Walau tak banyak bergerak ia tak perlu pulang. Ia selalu tahu tempat dan tugasnya. Diallui hidup yang meneruskan hidup ke masing-masing jalurnya. Jantung selalu terlindung. Dilapisi kehangatan hidup, diapit kelembutan paru-paru, diberi tameng oleh rusuk.

Kedua kaki menimbrungi. Mereka ria karena ada satu dan yang lain. Kaki yang terus menapak berpulang pada pasangannya. Pada sejoli, senasib, yang sama suka dukanya.

Hati tak mengerti. Hati makin merana, pedihnya menjadi-jadi. Ia ingin pulang. Yang tak pernah berkelana ingin pulang. Yang memiliki tujuan merasa hidupnya hilang. Yang memiliki teman merasa sendirian. Hati bingung. Ia ingin pulang.

Kemana kau harus pulang, hati? Jangan tanya pada yang lain. Tanya dirimu sendiri.

Hati bertanya pada hati. Hati masih tak mengerti. Hati bertanya pada hati lain. Hati lain juga tak mengerti. Kemana lagi hati harus pergi?

Malam datang dan tidur menjelang. Tubuh tidur, otak tenang. Jantung tetap terjaga dan bersenandung, kaki dan kaki bergabung. Namun hati tak tidur, tak tenang, berkabung sendirian. Hati masih ingin pergi. Ia masih ingin pulang.

Sebenarnya apa yang kurang?

Malam ini hati menyadari sesuatu. Ia merasakan sedih yang belum tentu berlalu. Ia tak punya tempat berpulang dan tak tahu mengapa semua terasa kurang.

Hati akan terus mencari. Hingga detak jantung dan pikiran otak berhenti. Saat dua kaki kaku dan tubuh ada di liang kubur. Sampai saat itu, hati akan terus simpang siur.

Sayang. Hati tak tahu. Ia tak diciptakan untuk menempati rumah. Bagaimana ia bisa pulang?

Advertisements