Ini bukan sebuah cerita yang akan terjadi. Bukan kisah yang sudah terjadi. Bukan luapan emosi yang menjadi-jadi. Namun tentang untaian cerita yang tak jadi.

Tak terhitung kali ku mengangkat alat tulis, mempersiapkan beberapa carik kertas, mencari tenang, lalu menunggu ide yang muncul tertuang. Juga saat jemari menari-nari tanpa arah pasti di atas tuts keyboard laptop. Hasilnya? Sejumlah guratan tak jelas. Lalu si penulis menatap, mendesah, dan berserah.

Manusia itu aneh. Kita dapat terobsesi pada satu kalimat dari seorang tokoh dalam suatu cerita. Menulisnya berulang-ulang di berbagai tempat, mengucapkannya bagai mantra, bahkan menorehnya di atas lapisan dermis secara permanen.

Manusia itu aneh. Kita dapat terobsesi pada suatu ide abstrak, sesuatu yang tak jelas. Memikirkannya selagi menunggu lelap menjemput, memikirkannya hingga lelap tak bisa menjemput. Mencoba menggapai untuk memahami, seperti seorang anak yang mengira ia bisa menggenggam bintang. Terasa begitu dekat namun tak tercapai. Mencoba mengerti, namun kerumitan gagasannya tak terurai.

Terkadang bagiku menulis seperti itu. Ada bagian diri yang ingin mengatakan sesuatu. Namun saat sepertinya memaklumi tanpa bisa memaklumkan sama dengan nol. Memiliki ide yang tak bisa dikembangkan atau dijual sama seperti mengumpulkan sampah. Frustasi mengendap setinggi tumpukan sobekan kertas yang menjadi remah-remah.

Saya termasuk dalam kategori manusia yang aneh. Memikirkan suatu ide yang saya anggap bagus, mencoba menuliskannya, lalu membiarkan tulisan itu lari dari tema. Bagai kereta yang berputar tanpa mengetahui destinasi. Membuat pembaca bingung dengan tulisan yang ambigu.

Maka, kini  saya hanya menodai kertas dengan satu titik. Lalu berhenti.

Advertisements