Hari ini gue sakit. Setelah sekian lama bertahan melawan virus dan kuman. Entah mengapa, tapi gue menyesal gak sakit sejak beberapa minggu lalu. Gue malah lebih memilih sakit saat UTS.

Alasannya? Mudah. Saat UTS ada banyak waktu luang. Banyak waktu untuk sakit-sakitan. Banyak waktu untuk pemulihan.

Kenapa gue baru sadar bahwa penyakit begitu memakan waktu? Selama ini gue mengira penyakit hanya akan mengganggu. Baik menjalani aktivitas atau sekedar berpikir jernih.

Tetapi penyakit juga menyita waktu.

Sebagai anak keras kepala, perlu waktu yang lama agar gue mau memakan obat saat umur gue masih belia. Dan sekarang pun demikian. Sepuluh menit termenung menatap sebutir kapsul yang tak kunjung ditelan walau gelas sudah di tangan. Kalikan tiga kali sehari memakan obat. Setengah jam sudah terbuang.

Saat memilih menu makan ada banyak yang harus diperhatikan. Akankah penyakitku semakin parah? Atau malah menyembuhkan? Atau daerah abu-abu–tak memperparah namun tak juga membantu?

Belum lagi kelambanan dalam melakukan segala sesuatu. Mengulangi apa yang salah dan memastikan semuanya benar. Sedikit lebih lama berjalan, sedikit lebih lama berbicara, sedikit lebih lama untuk mengerti apa yang dijelaskan.

Yang terakhir, menanti kesembuhan. Karena menantikan sesuatu yang tak pasti membuat tiap detik terasa begitu lama. Ingin kulanjutkan rentetan kata ini, namun penyakitku sudah membuang cukup banyak waktu. Masih banyak hal lain yang harus kukerjakan.

Andai bisa, andai mungkin, kan kupilih sendiri waktu untuk sakit. Luangkan waktu untuk merasakan waktu sedikit lebih lama.

Mungkin sakit tak selamanya tak menyenangkan. Setidaknya gue masih cukup sehat untuk menulis, bukan?

Advertisements