Antara mata dan kata harus ada keseimbangan sederhana. Terlalu banyak mata memuakkan, terlalu banyak kata menjadi bualan. Biar ku jelaskan.

Saat mata bertemu mata, kedua mata terangkat, menarik ujung bibir menjadi senyum. Saat mata mencari maka bibir bergetar gugup. Bila terlalu lama tak bertemu, mata lelah memandang. Mata gagal melihat cinta, maka hati menutup.

Bertatap mata berarti bertatap muka. Mata akan saling mencari hingga merasa cukup. Saat haru terpuaskan maka mata dapat terpejam, cukup nyaman berada dalam dekapan.

Saat kata terucap maka yang lain harus diam. Menunggu mengungkapkan dengan kesabaran. Seperti segalanya, berkata-kata perlu giliran. Jika semua kata diucapkan bersamaan tak ada yang terdengar. Saat kata terlalu banyak terucap sulit untuk didengar, apalagi dimengerti. Bagai mimpi buruk simfoni—berisik tanpa makna—hambar.

Berkata-kata berarti bertukar isi hati dan memahami. Bertanya dan menjawab hingga merasa cukup. Saat ingin tahu dan unek-unek terpuaskan maka mulut dapat diam, menikmati pengertian satu dengan yang lain dalam keheningan.

Namun satu yang cukup tak cukup. Perlu keduanya untuk membuat hubungan harmonis tanpa bermuluk-muluk.

Mata memerlukan kantung untuk bertempat dan sesuatu untuk dilihat. Kata memerlukan diri untuk terucap dan diri lagi untuk didengar. Dan sama seperti satu perlu yang lain, maka yang lain perlu yang satu.

Ada lagi yang perlu kau tahu. Satu tanpa yang lain berakibat buruk. Seperti kalimat pertama ini, hanya satu yang terpenuhi tak membuat pertalian berarti. Kau manusia yang ingin disentuh, kau punya dorongan untuk menyentuh. Kau memiliki kebutuhan bersosialisasi—berbincang untuk membangun koneksi.

Apa penjelasanku semakin ambigu? Mari, ku buat sederhana untukmu.

Kau perlu berkata “aku cinta” dan kau perlu menunjukkan kau cinta.

Bertatap-tatapan tak membuatmu pergi kemana-mana. Berbicara tanpa henti membentuk kekosongan saat kehabisan bahan obrolan. Keduanya kau perlukan agar hatimu seimbang.

Saat membaca ini kita tak bertatap mata. Tetapi untuk kau sekedar mengerti, ku rasa ini cukup.

Advertisements