Aku hanya mencarinya saat susah. Aku membuangnya kala hidup terasa mudah. Aku menudingnya hanya ada di saat susah karena kasihan, membuangnnya saat senang, mengatakan pada diri sendiri bahwa ia memang tak menyenangi apa yang aku senangi.

Padahal kau tahu minatku dan tentang minatku karena memang itu pula minatmu. Aku tak pernah tahu karena kau diam, menganggapku memang tak memerlukanmu.

Kamu hanya mencariku di saat senang. Kau menyingkirkanku kala hidup terasa suram. Kau menudingku tak mampu menghiburmu, menyingkirkanku dari seporsi hidupmu, meyakinkan diri sendiri bahwa aku tak mengerti apa yang kau pahami.

Padahal aku tahu masalahmu dan tentang masalahmu karena memang itu yang sudah ku alami. Kau tak pernah tahu karena aku diam, menganggap kau memilih berceritera pada yang lain.

.

Yang tak terucap tak dapat dikecap, karena manusia tak bisa membaca dari mata saja. Untuk itulah manusia perlu berbicara.

Yang terdengar tak selamanya diserap, karena manusia tak bisa mengerti tanpa mencerna. Untuk itulah kita memiliki dua telinga—satu untuk mendengar apa yang dicakapkan, satu lagi untuk mendengar suaramu sendiri.

Advertisements