Aku memimpikannya terjadi dalam realita
sampai datang dalam bunga tidur yang terasa nyata
lalu berpikir, “inikah saatnya?”

Lalu aku bangun.

.

Banyak yang takut pada kematian,
tak terkecuali diriku.
Masuk akal karena kematian begitu asing,
menimbulkan aneka pertanyaan
berputar bagai gasing.

Ada yang takut karena tak tahu kemana mereka akan pergi,
dan apa yang anak ini ketahui tentang itu?
Ada yang takut karena konsep “tidak ada” tak mereka pahami,
namun bagiku ini bukan masalah eksistensi.

.

Bukan maksudku menyesali nafas yang diberikan,
namun saat hidup bukan lagi suatu keuntungan….

Apa yang tersisa selain kematian?

.

Aku membayangkannya terjadi dalam sebuah cerita:

Suatu hari, jantungku berhenti
berdetak begitu saja.

Banyak orang mendengar kabar,
segenggam yang datang,
satu-dua dengan bibir gemetar.

Siapa yang tersisa ricuh tentang
cara penguburan,
masalah undangan,
dan kepada siapa koleksi bukuku harus diberikan.

Pikiran yang, anehnya, menenteramkan.

.

Hidup itu berawal dari sebuah judi
tentang keluarga dan harta
dan tempat lahirmu di dunia.

Hidup itu berakhir
sebagai pos menuju kebakaan.

.

Lucu.
“Baka” berarti kekal
dan dalam bahasa Jepang berarti bodoh.
Seolah-olah mengatai orang yang merindukan kematian
—seolah mengataiku—
lugu.

.

Dalam kesadaran, aku memilih
setelah menimbang,
bahwa kematian mengerikan
sama seperti kehidupan.

Dan dalam tengah awal dan akhir
aku bukanlah pejudi yang mahir
karena malah duduk manis dan menunggu
keping kehidupanku untuk kembali diambil.

Advertisements