Di tengah malam
Kala membuka gerbang menuju lembah kenangan
Kau menyelinap bagai bunga liar
Kuntum yang tak ingin ku petik
Mau ku cabut namun tekad tak terbersit
Maka ku tinggal di pinggiran
Untuk bertumbuh, berakar

Mengingatmu merupakan perkara pelik
Dalam tiap pengertiannya
Aneh, jarang, rumit
Indah
Oksimoron… seperti adanya
Apa kau ingat?

Semua tentangmu
Tersimpan rapat
Bagian terisolasi dan tertutup waktu
Tetapi apik bagai kotak deposit baru

Kintaka*
Di bawah kata “rindu”

Acap kali menulis tentang apa saja
Dua ujung lengkung di wajahku terangkat
Heran dan diam-diam menghujat
Diri sendiri
Karena kau masih menjadi alasanku menulis

Tahukah kau?
Kendati segala
Hati tetap mencinta

Dulu kamu
Lalu kau yang lalu
Lalu imaji yang terbentuk oleh bunga tidur
Sekarang akan pengaruhmu padaku

Karena dalam konteks kepemilikan
Aku ini
Jalang

Dan kau… dengan segala kebebasanmu
Membuatku ragu
Karena bagaimana caranya menyebut kendali
Tak ubahnya sangkar
Bila rangkulan bisa menyentak
Menyadarkanku akan jantung yang berdetak
Dan aku merasa hidup?

Kau membuat definisi bebas menjadi sukar
Membuatku suka
Pada gagasan
Batasan
Menjadikan hidup
Tak berpias

.

Tulisan ini berwatasmu**
Seperti banyak hasil guratanmu

Kau ini pujangga
Bagian berima masa lalu
Yang terkadang terngiang-ngiang secara samar di telinga
Tercium sekilas bagai bunga yang ku temu
Saat berjalan lalu

Tulisan ini tentangmu
Terlebih lagi tentangku
Yang kecewa sekaligus lega
Menemukan tak sekadar sarafku yang bisa merasa

Tulisan ini surat untukmu
Yang menumpuk
Tak akan pernah sampai
Karena si penulis
Tak mau menutup amplop yang terbuka
Mengirimnya untuk kau baca
Dan membuatku kehilangan
Satu lagi arsip
Lamunan tengah malamku
Kala mendamba masa lalu

Tulisan ini kutaruh
Di bawah kata “rindu”
Dalam pusat poros angan
Dari distorsi ingatan

Tulisan ini kutaruh
Dalam kintaka
Di bawah kata “cinta?”
Dan di bagian “hal-hal yang membuatku tersenyum”
Dalam sebuah berkas tebal
Bertuliskan inisial namamu

 


 

 

*kintaka: arsip
** watas: batasan

Advertisements