Kau
dengan senyum ramah
mengundang,
mengajak bicara
hanya untuk berakhir kau yang bercerita.

Gayamu, bak
anak anjing lugu.
Mata menatap,
bibir sedikit mengerucut
—minta dibantu.

Dan kau mendapatkannya
dan lebih,
walau diiringi oleh banyak oceh
dan celoteh.

Setelah mendapat yang diperlu,
kau hilang dalam bisu
menjelma sembilu
—menusuk
memecah kaca peredam.

Dan tinggal
yang tinggal di dalam
mencoba memungut pecahan.

Dan tinggal
aku yang bingung
mencoba menjawab tanya yang terus berdengung.

Kenapa aku
membiarkanmu
walau persis tahu
yang akan menyusul?

Mengapa, jika
kau memang tak berasa
dan juga bengis,
aku masih menangis?

Advertisements