“Ini,” kata hati. “Ambil aku dan hancurkan. Tak apa. Dan setelah itu, kau bisa menulis.”

Jangan. Bukankah kau sudah cukup tersakiti? Bukankah baru saja kau kembali patri?

“Tugasku pada tubuhmu dan padamu. Pada tubuh, untuk detoksifikasi dan menampung racun. Padamu, membiarkanmu terkena toksifikasi dan menampung rasa terkena racun.”

Aku terdiam. Betapa tabah si organ. Tak heran ia menjadi sorotan hidup banyak orang.

Bukankah kau lelah? Apa kau tak takut mati?

“Kurasa kau tak mengerti,” katanya, tergelak kecil.

“Semakin kau merasa, semakin aku ada. Baik senang atau sedih, tawa atau sakit.”

Dasar, kau, masokis! Tawaku sendu, dengan berselimutkan haru.

“Bukankah aku mencerminkan dirimu, sayang? Berhenti menyiksa dirimu, maka kau akan berhenti menyiksaku.”

Diam. Senyap beberapa saat sementara kata-katanya kuserap.

Namun, bila tak lagi bisa merasa siksa, lalu bagaimana?

“Maka kita bernyawa namun tak hidup, dan jiwa kita mati.”

Advertisements