Lara yang mengusik tertutup pelupuk, merembes lewat titik-titik tetes tinta, tertoreh tertata di atas kertas. Aku tak pernah menyukai duka kendati selalu menerima dengan tangan terbuka. Ia bagai tamu yang memecahkan barang, menyuruhku membereskan, tertawa kala aku tertusuk.

Nyeri yang gaib terkurung dalam bisu. Apa pula guna membagi pilu? Pun semua punya miliknya masing-masing. Hanya tubuh yang tahu, maka biar tangan bercerita apa yang ditimpa hati, didetakkan jantung, mengalir dalam pembuluh dan meyebar ke seluruh tubuh.

Lupakan ucap siapa yang mengaku ada untukmu. Niat boleh kuat namun apa mereka cukup sigap mencerna tiap kata? Aku memilih menulis. Meramu cara membuat orang lain tahu dan menjaga agar informasi ambigu. Tak sulit. Sungguh. Ada saatnya seseorang perlu menelan bulat-bulat, namun apa untung memaksa mengerti saat yang kau perlu hanya menyuarakan benakmu? Biar ku jawab: tidak.

Lara yang mengusik tertutup pelupuk. Biar jangan ada yang melihat air mata lalu bertanya-tanya. Jangan ada yang mencoba membuat lega hanya agar mereka sendiri tak perlu repot mengurus sakit.

Dua tangan ini—ya, mereka saja yang melantunkan nada rasa di atas tuts. Mereka saja yang menyebar kisah di dunia maya. Kisah beratapkan rima, beralaskan rasa, dan berdinding enigma.

Aku membiarkan bibirku menipu dengan senyum. Lebih mudah menjaga rahasia dengan begitu. Lebih hemat waktu. Kalian yang membaca ini: kalian yang “beruntung”. Kalian melihat risauku apa adanya. Kalian melihat sepotong diriku yang sepenuhnya jujur.

Advertisements