Hai kau, pencari malam
Sudah kau temukan kelam?
Apa yang kau katakan waktu itu tentangnya—hmm
Ah, ya, aku ingat

Kelam tak selamanya suram
Pun bisa menjadi kelambu
Membuat segalanya lebih kabur
Lebih indah dalam sebuah sendu

Kelam tak selamanya seram
Menggelapkan ujung-ujung pikiran yang berputar
Menyelipkan satire untuk bahan kelakar
Memberi kontras dalam
Indah dan sedih dan romansa
Hari yang terbenam

Kelam apa yang kau temukan?
Dan mengapa harus dalam gelap?
Hai, pencari malam
Sini, kataku
Mendekatlah padaku

Duduk—ini, secangkir kopi, masih mengepul
Dengar pengamat muda ini
Yang mencintai cengkeraman ironi
Terperangkap dalam ruang kaca
Menonton kehidupan sesungguhnya
Selamanya mengobservasi

Kelam kutemukan dalam berbagai terang
Dalam pendar terakhir mata sebelum putus sebuah nyawa
Bangkai membusuk di bawah panas siang
Sorot lampu pada antagonis hidup yang menang

Kelam kutemukan dalam berbagai senyum
Rahasia dalam sembunyi
Derita terpendam di hati
Tawa getir penyirat hilangnya asa
Kepuasan pelontar kata-kata berbisa

Kelam kutemukan dalam keindahan
Sapuan hitam di bawah kantung mata
Dan pelangi biru-ungu korban kekerasan

Jangan termanyun begitu, pencari malam
Aku tahu apa yang sesungguhnya kau rasakan

Kau kecewa, bukan?
Kau kira kelam hanya bagi yang berkisah
Yang mampu kau tulis gelapnya dalam untaian kata

Pencari malam, kau tahu apa yang kau butuhkan?
Gelap yang sepi dan sunyi
Agar kau bisa merenungkan kelam
Agar kau bisa ingat

Kau lupa kelam tak hanya cerita
Kau lupa kelam dapat membisu
Kau lupa kelam dalam renung dan sendu
Kau lupa kelam dalam rasa

Jadi… sudah kau ingat kelam itu?

Advertisements