Untuk: Yang pergi, ditulis saat melarikan diri.


#1—00.30

Aku tahu
kau bukan segalanya untuk
diriku
bukan apa-apa untukmu.

Aku tahu kau tak
pernah istimewa
di hatiku
selalu ada dirimu
layaknya benalu.

Kau membuatkau resah karena
kelakuanmu
membuatku tertawa
terhadap kebodohanku.

Tetapi rasa ini
luar biasa
menyebalkan sekali
pun aku marah juga
tak bisa marah padamu.

Apa ini teka-teki yang
para pujangga akui
kumatnya kinerja hati
adalah sumber inspirasi.

Maka, aku menulis
tentangmu yang tak peduli
tentangku yang bermimpi
tentang kita
tak ada cerita, hanya kenangan
sedu sedan yang kutumpahkan
kala memutar balik
khayalan indah
yang sebenarnya konyol juga.

 


 

#2—01.12

Apa kau tahu aku menulis dengan cara yang berbeda tentangmu? muluk-muluk, campur aduk, dengan hati lelah dan jemari yang tak pernah mengantuk.

Apa kau tahu aku menulis dengan cara yang berbeda karenamu? Aku tahu akan tercebur, dan karena tulisanku jujur, coretan tentangmu kucoret juga. Tentangmu, aku tak takut membuat kesalahan.

Apa kau tahu perasaanku saat menulis tentangmu? Tak karuan. Tentangmu, rasanya aku kehabisan kata-kata. Bahagia, sedih, mara. Mungkin…  cinta? Ah, entahlah.

Apa kau tahu perasaanku saat menulis tentangmu? Kaget, karena tulisanku adalah ungkapan—validasi bahwa kau berarti. Senang saat tahu bahwa hati ini berfungsi. Lega, sungguh lega, karena bisa menulis. Takut, karena sejak perjumpaan, tulisanku sudah menyinggung kerelaan. Seolah-olah aku memang ingin meloncat ke tahap patah hati atau perpisahan.

Apa kau tahu alsanku menulis tentangmu? Agar aku ingat bahwa pernah ada masa saat aku merasakan hal indah. Aku ragu sekarang masih mempercayainya, namun kala itu aku yakin bahwa menulis akan membuatku tabah.

Apa kau tahu alasanku menulis karenamu? Malu, karena tak biasa. Senang atas hal yang kurasa. Agar bisa kuutarakan lebih rapi agar kau mengerti. Agar bisa kuutarakan karena—ternyata, haruskah ku ragu?—kau tak mau mengerti.


Semarang, 27 Juni 2016
—Yang masih merindu

Advertisements