Search

Midnight Malarkey

a peek inside the poetic freak

Category

Very Short Story

We’re Gold

I opened my eyes to hers. They’re as lively as spring. They’re smiling. Her long, black hair tickled my cheeks.

“Happy first anniversary!” she hugged me before burying her face under some pillows.

“Do you think we’ll make it to fifty?” her voice was barely audible.

“I know we will.”

I kissed the palm of her smooth hand. She smiled and closed her eyes, slowly fading back to sleep.

She opened her eyes to mine. They’re as lively as spring. They’re smiling. Her nearly white hair tickled my forehead.

“Happy anniversary,” I hugged her, careful not to disturb the hoses covering her face.

“We made it to fifty,” her voice was barely audible.

“I know.”

I kissed the palm of her wrinkled hand. She smiled and closed her eyes, slowly fading away.

Bruised

I’m a woman of my word.

I thought integrity a virtue, admired those who held their tongue, worshipped who kept every uttered syllable.

That was before you and your sweet nothings.

You said you’d make me happy, treat me right. Told me I’m the one.

As tears flood my bruised cheeks, I remembered what you said the day you proposed.

“Babe, I’ll change your life forever.”

I smiled.

Finally. A promise you could keep.

Untuk si Hati

Sesungguhnya hati tak perlu pulang. Ia memang tak diciptakan untuk menempati rumah. Yang ia perlukan ialah teman berkelana. Yang dapat menemani dan berjalan bersama. Seperti dua jantung, jika berdekatan detaknya menyatu. Begitu pula hati ingin kawan seperjalanan untuk mengusir sepi dan sendu.

Genggamlah

Genggam dengan kedua tangan. Genggam dengan lembut. Genggam dengan sepenuh hati tanpa menuntut. Genggam tanpa membuatnya takut.

Yang kau sayang membuatmu hidup. Segala yang hidup tak mau dikurung di tempat tertutup. Maka, genggam dengan mata dan jiwa, namun jangan mencekiknya.

Genggam hatimu dengan celah terbuka agar ia bisa datang. Genggam dia dengan celah terbuka agar bisa pergi dan pulang.

Genggam dengan iman bahwa ia takkan dirangkut. Genggam dengan percaya bahwa kemanapun kau pergi ia akan ikut.

Genggamlah dengan demikian walau kau takut.

She held on so tight with all her might that what she grasped collapsed on itself and got lost from her sight.

Dandan

Engkau tak kukenal lagi.

Rambutmu acak-acakan dan keriting bagai tanduk kambing. Samar-samar ada bau gosong. Sepertinya kau terlalu lama memakai catokan. Apa yang terjadi, kawan?

Kedua matamu terbuka namun tak melihat. Mereka terlihat bulat dan mengerikan, hasil lensa kontak yang kau pakai sebagai siasat. Awalnya untuk terlihat cantik, namun sekarang kau buta.

Bibirmu merah. Semerah darah. Dan ternyata memang darah yang kulihat menetes-netes. Kau torehkan pisau di sekujur mulutmu demi mendapat warnah merah yang sempurna.

Baumu tak manusia lagi, tertutup rias dan pewangi. Pewangi yang menghilangkan manusiamu.

“Aku sudah cantik, kan?”

Aku mengangguk, lupa sejenak kau tak bisa melihat. Tapi tanpa menunggu jawabku terdengar kau mulai terbahak. Di depanmu ada cermin dengan pantulan kesempurnaan; rambut ikal, mata bundar, bibir penuh dan merah menggoda.

Aku tak mau mengikuti jejak itu. Aku pun melangkah pergi, dengan kekeh tawa gilamu mengiringi.

Untaian memori yang kau kenakan di lehermu sungguh indah, andai ia tidak mencekikmu. Ups, masa depanmu hilang. Sepertinya dibunuh kenangan.

Aku menggeleng melihat umat manusia mengotak-ngotakkan segalanya. “Untuk mempermudahkan,” katanya. Mempermudahkan apa?

Hidup ini dijalani tidak dengan menyudutkan sesama untuk dipandangi dari satu segi. Jika hidup berbentuk, ia adalah sebuah lengkung yang berputar tanpa batas, bukan imaji dua dimensi di atas sehelai kertas.

She said I was shining. I wonder if I shone half as bright as the reflected light of the blade I’ve been keeping for her.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: