Search

Midnight Malarkey

a peek inside the poetic freak

Tag

Books

sea o' tranquility quote

Decided to randomly do a quote at this hour. This is taken from a novel I haven’t read, but I just love it. It kind of describes what’s going on with a few of my friends.

And she remembered Anna drooped her eyelids just when the deeper questions of life were touched upon. “Just as though she half-shut her eyes to her own life, so as not to see everything,” thought Dolly.

— Anna Karenina

 

Di Sudut Toko Buku, Aku Menemukan….

Sebelumnya aku ingin minta maaf. Momen itu seharusnya diketahui dua orang dan Tuhan saja. Jadi, sekali lagi, maaf atas kelancangan aku yang tak tahu diri. Aku hanya ingin menikmatinya–membuat ingatan itu terpatri. Hanya itu saja. Tak ada maksud apa-apa.

Ah! Kalian tentu termangu menerka apa yang sedang kubicarakan? Mari, kujelaskan.

Sederhana. Saat sedang menyesap segelas kepahitan yang ditawarkan hidup (iya, iya, kopi) aku merasa bosan. Syahdan kedua kaki dan otak berkoordinasi, membawaku ke hadapan toko buku. Tak ayal aku melangkah masuk layaknya mengunjungi rumah teman akrab, atau bahkan domisili sendiri.

Melewati deretan buku dalam negeri, mataku mencari rak penyangga karya dari negeri di seberang lautan. Setelah menemukannya, lantas aku mulai melihat-lihat. Seperti biasa. Sejauh ini, tak ada yang istimewa.

Lalu, aku mendengarnya.

Sayup-sayup telingaku menangkap suara tawa dan kata “polisi”. Sontak aku menoleh, refleks rasa penasaran akan apa yang sedang terjadi. Tak ayal, apa yang kulihat selanjutnya berhasil mengukir senyuman.

Ada seorang ibu duduk bersila. Di lengannya sang anak bertumpu. Ia sedang membacakan komik Tin-Tin untuk anaknya. Membuat suara-suara para tokoh dan bhakan efek suara yang ada. Sesekali ia menunjuk ke arah gambar agar si anak mengerti sudah sampai mana ia bercerita. Kali lain ia melirik sang buah hati untuk memastikan ia memperhatikan. Melihatnya terpaku pada cerita, ia tersenyum.

Sederhana. Yang ada hanya sejauh itu. Saat aku menorehkan kata dengan pensil yang kalian lihat dalam ulangan berbentuk ketikan, aku bahkan sudah tak ingat apa yang mereka kenakan. Padahal satu jam pun belum berlalu. Tetapi memang bukan kenangan yang ditinggalkan, melainkan kesan.

Bagi yang belum tahu, mari, kujelaskan sesuatu. Yang sudah tahu, sabarlah membaca. Berhenti di sini juga tak apa-apa.

Aku sudah bisa lancar membaca lebih dini dari anak kebanyakan. Majalah anak seperti Bobo dan AMI (Anak Manis Indonesia) kulahap dengan rakus seolah tulisan tersebut akan ngambek dan menghilang jika tak segera ku baca. Namun hal yang mungkin banyak orang tua syukuri itu ada sebabnya.

Begini, wahai pembaca budiman. Aku membaca karena tak ada yang membacakannya untukku. Menyedihhkan? Sedikit. Mungkin.

Layaknya anak usia belia lain, mungkin saat itu imajinasiku berada di puncaknya. Syahdan aku menjadi seperti orang gila mencari apa saja untuk dijadikan bahan khayalan. Orang tua lelah kuteror. Susterku tak sudi. Setelah berkontemplasi kuputuskan membacanya sendiri. Orang lain hanya ku ganggu jika aku tak memahami makna suatu kata. Demikian cuplikan masa kecilku.

Nah, melihat si ibu tadi, timbul rasa haru dan iri. Haru, karena di era teknologi modern si ibu yang bisa “menelantarkan” anaknya dalam genggaman media hiburan mau repot-repot bersembunyi di sudut toko buku dan meluangkan waktu membaca untuk anaknya. Iri, karena memori seperti itu adalah kesempatan yang tak pernah aku dapatkan. Rasanya hati ini terenyuh.

Rasanya aku berlebihan menyikapi apa yang terlihat selampau pandangan. Apa begitu menurutmu? Tetapi memang itu yang kurasakan. Salahkah? Kurasa tidak.

Tanpa sadar aku sudah menulis sebanyak ini. Ternyata aku lebih melankolis dari yang kukira. Mungkin itu hal baik. Entahlah.

Perlu kau tahu, si anak merangkak ke dalam pangkuan ibunya. Mungkin jika aku erus mengamati aku akan sempat melihatnya terlelap. Mungkin tidak. Aku takkan pernah tahu. Yang pasti si ibu langsung bersikap sedikit lebih waspada melihatku. Maaf, Bu. Aku akan pergi sebelum terkena laknan karena menerobos privasi momen ibu dan anak.

Tetapi, tak sempat ku ucapkan terima kasih. Karena kau membuatku percaya lagi. Bahwa masih ada orang yang rela–bahkan mau–membacakan cerita untuk anaknya. Bahwa ada yang cukup peduli.

Mungkin aku takkan melihat adegan serupa untuk waktu yang lama. Tak apa-apa. Ini sudah cukup. :)

Kenangan untuk bahagia

Namun, bukankah manusia selalu butuh menghidupkan masa lalu untuk sebuah jejak bahagia? Sebuah putaran waktu yang menggoda?

Kei oleh Erni Aladjai, halaman 191

Found this picture while Googling. Great idea! Maybe I’ll try and make one with the books I have. :)

“If.”

If.

If always propelled my thoughts back to the present, because if depended so much on keeping my wits about me. I couldn’t properly sense things if I was distracted. If demanded my full presence and participation in now.

If, as much as it scared me, also kept me sane.

— Jacob Portman’s thought from “Hollow City” by Ransom Riggs

Perhaps one did not want to be loved so much as to be understood.

— 1984 by George Orwell

They sye that time ‘eals all things,
They sye you can always forget;
But the smiles an’ the tears across the years
They twist my ‘eartstrings yet!

— A verse of a song in George Orwell’s 1984

On “Proles” and Staying Human

They were governed by private loyalties which they did not question. What mattered were individual relationships, and a completely helpless gesture, an embrace, a tear, a word spoken to a dying man, could have value in itself. The proles, it suddenly occurred to him, had remained in this condition. They were not loyal to a party or a country or an idea, they were loyal to one another. […] The proles had stayed human. They had not become hardened inside. They had held on to the primitive emotions which he himself had to relearn by conscious effort. […]

With all their cleverness they had never mastered the secret of finding out what another human being was thinking. […] Facts, at any rate, could not be kept hidden. They could be tracked down by inquiry, they could be squeezed out of you by torture. But if the object was not to stay alive but to stay human, what difference did it ultimately make? They could not alter your feelings; for that matter you could not alter them yourself, even if you wanted to. They could lay bare in the utmost detail everything that you had done or said or thought; but the inner heart, whose workings were mysterious even to yourself, remained impregnable.

— 1984 by George Orwell

Tragedy, he perceived, belonged to the ancient times, to a time when there was still privacy, love, and friendship, and when the members of one family stood by one another without needing to know the reason.

— Winston Smith’s thoughts in 1984 by George Orwell

“To the future or to the past, to a time when thought is free, to a time when men are different from one another and do not live alone—to a time when truth exists and what is done cannot be undone:

From the age of uniformity, from the age of solitude, from the age of Big Brother, from the age of doublethink—greetings!”

— Winston Smith’s diary entry, from 1984 by George Orwell

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: