Search

Midnight Malarkey

a peek inside the poetic freak

Tag

Heartbreak

Turning Point

This is when my heart
Breaks apart into tiny pieces
I want to put away my love
Lease it
To writers who’d at least
Appreciate it

This is when I face
The stone-cold
Reality is
I knew this plot would unfold
With something happy
In the end
But not for me

This is when the end looms
When I take up a broom
Sweep away all traces of you
Or at least try to….

This is when I write
Of what went wrong
What was right
There, staring straight at me
Something I just couldn’t see

You, my dear, didn’t want me the way
I wanted
You needed me
For comfort’s sake

How lucky am I to now awake
To the harsh

Reality is I’m blessed
Able to differ what I feel and
What my brain says is
My priority is
To let everything pour
Out of my brain, rhymes float
About you

And to tell you
The truth is I’m sick of
These feelings, clinging so
Tightly clenching
What I imagined
Would make me happy

No, scratch that
I meant things that
Would make me happy
But I can only
Imagine to be

So… it brings me to

This is where I
Stop posting for
Now I should try focusing
On other things
That are more tangible than feelings

Sejumlah Surat

Untuk: Yang pergi, ditulis saat melarikan diri.


#1—00.30

Aku tahu
kau bukan segalanya untuk
diriku
bukan apa-apa untukmu.

Aku tahu kau tak
pernah istimewa
di hatiku
selalu ada dirimu
layaknya benalu.

Kau membuatkau resah karena
kelakuanmu
membuatku tertawa
terhadap kebodohanku.

Tetapi rasa ini
luar biasa
menyebalkan sekali
pun aku marah juga
tak bisa marah padamu.

Apa ini teka-teki yang
para pujangga akui
kumatnya kinerja hati
adalah sumber inspirasi.

Maka, aku menulis
tentangmu yang tak peduli
tentangku yang bermimpi
tentang kita
tak ada cerita, hanya kenangan
sedu sedan yang kutumpahkan
kala memutar balik
khayalan indah
yang sebenarnya konyol juga.

 


 

#2—01.12

Apa kau tahu aku menulis dengan cara yang berbeda tentangmu? muluk-muluk, campur aduk, dengan hati lelah dan jemari yang tak pernah mengantuk.

Apa kau tahu aku menulis dengan cara yang berbeda karenamu? Aku tahu akan tercebur, dan karena tulisanku jujur, coretan tentangmu kucoret juga. Tentangmu, aku tak takut membuat kesalahan.

Apa kau tahu perasaanku saat menulis tentangmu? Tak karuan. Tentangmu, rasanya aku kehabisan kata-kata. Bahagia, sedih, mara. Mungkin…  cinta? Ah, entahlah.

Apa kau tahu perasaanku saat menulis tentangmu? Kaget, karena tulisanku adalah ungkapan—validasi bahwa kau berarti. Senang saat tahu bahwa hati ini berfungsi. Lega, sungguh lega, karena bisa menulis. Takut, karena sejak perjumpaan, tulisanku sudah menyinggung kerelaan. Seolah-olah aku memang ingin meloncat ke tahap patah hati atau perpisahan.

Apa kau tahu alsanku menulis tentangmu? Agar aku ingat bahwa pernah ada masa saat aku merasakan hal indah. Aku ragu sekarang masih mempercayainya, namun kala itu aku yakin bahwa menulis akan membuatku tabah.

Apa kau tahu alasanku menulis karenamu? Malu, karena tak biasa. Senang atas hal yang kurasa. Agar bisa kuutarakan lebih rapi agar kau mengerti. Agar bisa kuutarakan karena—ternyata, haruskah ku ragu?—kau tak mau mengerti.


Semarang, 27 Juni 2016
—Yang masih merindu

Today I saw someone
broken
arm just like yours.

Made me think back to the very first time I noticed
you
dangling by the window.

You’ve come a long way.
You’ve grown
colder
than winter,
bitter.

Reality has sunk in
deep in your bones
you feel
this is all life is.

But you forget
one person, dear
is enough.
One person near
unconcealed, unseen.

“We” is a word for you not found
in the dictionary
defined as
two
meaning to you
you
with another,
without me.

And you’ve gone
as our proximity grew
close
to saying goodbye
for good
I shall try to win
you back,
is it a mere dream?

We shall see
each other
maybe
with another
I shall find
“We” defined:
You, me,
together.

Untuk si Pemetik Rasa

Untuk kamu, pemain musik
Lagulah hidupmu

Kau mainkan melodi
Tiap hari
Menjalani hari

*

 

Aku ini
Jeda di antara petik
Ada untuk menambah warna

Tetapi terlalu lama menjadi pelik
Kau perlu melanjutkan irama

Dan aku
Kita

Sirna

Kau, dia. (Sungguh-sungguhkah?)

Ini cerita tentang kau dan dia. Sebelum aku ada dalam gambaran.

Maaf, ada kesalahan. Maksudku, sebelum aku mengada-ngada bahwa aku ada dalam gambaran.

*

Kau dan dia pernah sempurna. Sempurna dalam keretakan halus berbalut cat sebagai penutup. Sempurna rasa yang kalian alami selama kalian bersama. Sempurna selama ada kepraktisan saat kalian bersama.

Kau dan dia pernah satu. Satu suara mengiyakan hubungan. Satu hati menyayangi. Satu hari… perpisahan terjadi.

Rupanya, jarak dan jurusan menjembatani kalian dengan kemulusan hubungan. Kau dan dia mulus-mulus saja. Setidaknya, awalnya.

*

Sungguh, saat kali pertama bertemu, kau sudah memperlihatkan sifat-sifat bajingan. Kini aku tahu mengapa kau perlu pernah mampir dalam anganku. Agar aku tahu apa yang sesungguhnya baik.

Sungguh, saat kali pertama mendengar ceritamu, kau sudah memperlihatkan keengganan. Tanda-tanda monoton menyerap perlahan-lahan dalam keseharian. Kini aku tahu mengapa aku pernah—dan mungkin masih—mau mendengar keluh kesahmu. Aku perlu memperhatikan sekitarku baik-baik.

Sungguh, saat kali pertama kau ceritakan masalahmu, kau sudah memperlihatkan keegoisan. Kau menuduhnya tak mengerti, mau menang sendiri, banyak menuntut. Kini aku tahu mengapa aku membiarkanmu semena-mena. Aku perlu belajar menghargai perlakuan yang patut.

Sungguh, saat kali pertama kau ungkapkan gundah, kau sudah mencetuskan kebingungan. Kau merasa dunia tak pernah seperti yang mau. Maksudku dari dunia, dunia sesungguhnya dan juga wanita. Kini aku tahu mengapa kau selalu kecewa. Masalahnya, kau terlalu lugu. Apa yang kau inginkan selalu berubah-ubah.

Sungguh, saat kali terakhir kau bercerita tentangnya, aku tak habis pikir. Apa ia sungguh sahabat berlabel mantan? Apa kalian masih menyimpan perasaan? Apa yang sesungguhnya kau harapkan?

*

Kini aku tahu mengapa aku tak pernah cemburu padanya. Kau pernah tersenyum berseri, mengatakan cinta padanya. Kau pernah melakukan hal-hal yang “terlalu feminin” dengannya, dan menolak saat aku yang meminta. Kau bisa membatalkan rencana deminya, sementara untuk membalas pesanku saja kau mempunyai segudang alasan.

Aku tak pernah cemburu padanya, sungguh.

Sungguh, kau bukan orang jahat. Setidaknya, kupikir begitu. Aku dapat melihat kebaikanmu, bahkan tanpa perlu rasa suka. Tetapi otak ini tak pernah berhenti bertanya: apa yang bisa kau beri padanya?

Mungkin memang pola pikir kita berbeda, dan kau cocok dengannya. Tetapi aku kasihan padanya karena merasa ia dimanfaatkan olehmu. Sama sepertiku dan teman-temanmu yang lain.

*

Kini aku membelanya. Setidaknya, dalam beberapa hal.

Bajingan, sungguh. Kau berkata tak serius dengannya, sementara ia dengan bangga mengunggah perasaannya pada dunia, berkata ia merasa kalian memiliki masa depan bersama.

Enggan, muak saat melihatmu melirik perempuan. Mendaftarkan angan dan mencoba mencocokkannya pada sebuah wajah.

Miris, aku bingung mengapa bisa jatuh karena makhluk sepertimu. Yang berkata-kata saja sembarangan. Yang mengaku pria sejati, namun lebih menghindari kenyataan daripada banci. Maaf. Mungkin mereka tak sudi dibandingkan denganmu kalau mengetahui kau seperti apa. Setidaknya mereka nyata-nyata menyatakan menghindari kenyataan.

Pikirkan saja kelakuanmu itu. Sungguh, masih pantaskah kau untuknya—untuk perempuan manapun?

Distance.

Inspired by a piece from Lang Leav.



 

I couldn’t figure out what I was doing wrong. So I explained how I feel to myself, trying to get an epiphany.

I felt like sinking. I felt like running on a treadmill set faster than any man could run. I felt like in space–floating, unable to breathe.

I felt like someone dangling off a cliff, grasping for someone to pull me up.

That’s it.

No matter how close we were, you’d never reach for me. It takes two to hold on to each other, two to close the distance. And I’m one short of the one who would love me back. The one who’d save me from myself.

So I fell off that cliff. I didn’t die, of course, because the fall never kills. It’s the impact. But my head’s so high up in the clouds I end up falling into the neverending space.

Now I long for that impact. But it’s not coming. At least no time soon.

And that, I fear, is much, much worse.

You are the picture I paint with clear
Water running down my cheeks
Your name, a silencing word
The face I’ve come accustomed to seek

May you be a lesson well learned
To find the good
In finding peace when I’ve failed
Gaining for what I yearned
So I may say my byes

You’re a word I write over and over again
Not quite getting the curves round
The North in my compass
Set forth did my heart
To you it was bound

I pray I find my peace soon
Too long the clouds of gloom have loomed
And I know you’ll be a sweet memory
Somewhere in the future
Somewhen far

A little treasure I’ve held on too tight
I gave myself a fright
Not sure if my brain thinks you’re worth it
But fate thinks you are

Are
Were
Have been
Had been

Now, still…
My love

Kasih, sayang, dambaan semua orang. Kala suram membayang, rasa itu mengalahkan. Sulit melupa dirinya, sekalipun sudah lekang.

Belum lama memudar, kau menghampiri lagi. Heran. Apa kau rindu dirindukan? Lalu mengapa kau kerap hinggap hanya di seorang insan? Untuk dua saling memiliki, mereka kudu memilikimu. Barulah bisa disebut pasangan.

Tertarik tidak, tapi tertarik juga. Memang kau bagai tali tak kasat mata. Mengikat, membalut, memaut.

Ah, yang terakhir itu. Pantas, banyak yang mati demimu. Aksi bodoh bertajuk heroik. “INI DEMI CINTA”

Dan saat menemukan aku telah terjun, baru kusadari: kebodohan itu terulang juga.

Dan demi apa?

Some people are meant to meet
And some meant to have chemistry
Of these a bond can form rapidly
And some end up in love
Thinking, “This is destiny”

It’s a funny thing
Just think
Of seven billion
And a city population of millions
Two entities are bound
Each other meant to be found
by the other
To hold on to forever

I’m often puzzled by probabilities
Of two strangers close in proximity
But the ability
to love someone from a distance
In an instant
The author of “Three Cups of Tea”, for instance

But not all are happy endings
As so you’ll learn from life’s findings

At times the two to be never meet
Time and distance put them in defeat
One loves the other
but gets a broken heart by fate
Or something goes wrong
And they wait
‘Til too late

Patah

Kau
dengan senyum ramah
mengundang,
mengajak bicara
hanya untuk berakhir kau yang bercerita.

Gayamu, bak
anak anjing lugu.
Mata menatap,
bibir sedikit mengerucut
—minta dibantu.

Dan kau mendapatkannya
dan lebih,
walau diiringi oleh banyak oceh
dan celoteh.

Setelah mendapat yang diperlu,
kau hilang dalam bisu
menjelma sembilu
—menusuk
memecah kaca peredam.

Dan tinggal
yang tinggal di dalam
mencoba memungut pecahan.

Dan tinggal
aku yang bingung
mencoba menjawab tanya yang terus berdengung.

Kenapa aku
membiarkanmu
walau persis tahu
yang akan menyusul?

Mengapa, jika
kau memang tak berasa
dan juga bengis,
aku masih menangis?

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: