Search

Midnight Malarkey

a peek inside the poetic freak

Tag

Home

Path to You

There’s this path I’d take from my home to yours. It’s a winding road so long I’ll always be exhausted afterwards. So glad that at least you’re in reach, so sad that it’s rare we could meet. But I’ll be happy enough as long as you’ll wait, for I think of you each second—both in dream and in wake.

There’s this secret door I’d sneak through to get to you. Apparently, your parents are too ignorant to lock it after noon. So there I’ll wait, while you wake a flutter inside. It sends chills down my spine and trembles to my thighs.

There’s this look you give to me. I never knew what it could mean. Was it love, hate, or curiosity? But you saw me, and that’s enough. Your eyes are enough to calm me.

There’s this touch you do while grinning. I knew what it could only mean. A secret for others, for us alone it’s seen. I love so much of this of you. I go bonkers after this—your touch is the thing I always miss.

One day, I travelled that road. I snuck through the door and sat like a toad. I was in wait for you to come, but what I found was what would seal my fate.

You came out the door, knelt in front of me. Your parents came too, and I was so weary. I thought I’d be dead, a damsel deemed dirty.

But… no.

They smiled and greeted me “daughter”. They asked if I’d accept their son. I asked with my eyes if this is something you’ve done. You laughed and took my hand. That’s when I knew. They’d let you take my hand. They let me have you.

Now, I go down the winding road each day. I close the door behind my way. I’m never again exhausted by this winding path, it’s true. It leads me to home—to you.

Once

Once loved, turned bitter
Once sweet, turned sour
Once firm, now brittle
Yielding softly by the hour

Twice seen, undefined
Thrice disturbing, confined
Thinking and wondering
If the next turn be mine

Now house
Once home,
left a loveless dome

Save for few
Once
I thought I knew

Once confused
Now I know

Once the fault was mine
Countless times I have been blind
Now clues are glued
No longer confused

One question remains
To stay where once I held domain
Or refuse to be used
To remain

For the countless time I wish
I could get out of this
And find my home

Just one
Just once

Untuk si Hati

Sesungguhnya hati tak perlu pulang. Ia memang tak diciptakan untuk menempati rumah. Yang ia perlukan ialah teman berkelana. Yang dapat menemani dan berjalan bersama. Seperti dua jantung, jika berdekatan detaknya menyatu. Begitu pula hati ingin kawan seperjalanan untuk mengusir sepi dan sendu.

Tentang Hati yang Ingin Pulang

Hari ini hati menyadari sesuatu. Ia ingin menetap dan tetap di tempat. Ia lelah. Ia mau pulang. Ia tak punya tempat untuk berpulang.

Tubuh memarahi hati. Katanya, rumah sudah menyediakan semua. Air hangat untuk mandi dan menggosok gigi, tempat untuk bermimpi. Juga dapur tempat mengolah untuk megisi perut dan sunyi untuk doa seraya berlutut. Tetapi bagi hati, ia ingin yang lebih lagi.

Otak tak memahami hati. Baginya, semua adalah rumah. Kau hanya perlu pulang ke dirimu sendiri untuk berpikir. Entah hal penting atau genting atau untaian imajinasi yang miring. Otak berkata rumah adalah konsep jasmani saja. Jika kau yakin kau sudah di rumah, kau sudah pulang. Namun bagi hati penjelasan tersebut tak memuaskan.

Jantung berdetak, berkumandang. Walau tak banyak bergerak ia tak perlu pulang. Ia selalu tahu tempat dan tugasnya. Diallui hidup yang meneruskan hidup ke masing-masing jalurnya. Jantung selalu terlindung. Dilapisi kehangatan hidup, diapit kelembutan paru-paru, diberi tameng oleh rusuk.

Kedua kaki menimbrungi. Mereka ria karena ada satu dan yang lain. Kaki yang terus menapak berpulang pada pasangannya. Pada sejoli, senasib, yang sama suka dukanya.

Hati tak mengerti. Hati makin merana, pedihnya menjadi-jadi. Ia ingin pulang. Yang tak pernah berkelana ingin pulang. Yang memiliki tujuan merasa hidupnya hilang. Yang memiliki teman merasa sendirian. Hati bingung. Ia ingin pulang.

Kemana kau harus pulang, hati? Jangan tanya pada yang lain. Tanya dirimu sendiri.

Hati bertanya pada hati. Hati masih tak mengerti. Hati bertanya pada hati lain. Hati lain juga tak mengerti. Kemana lagi hati harus pergi?

Malam datang dan tidur menjelang. Tubuh tidur, otak tenang. Jantung tetap terjaga dan bersenandung, kaki dan kaki bergabung. Namun hati tak tidur, tak tenang, berkabung sendirian. Hati masih ingin pergi. Ia masih ingin pulang.

Sebenarnya apa yang kurang?

Malam ini hati menyadari sesuatu. Ia merasakan sedih yang belum tentu berlalu. Ia tak punya tempat berpulang dan tak tahu mengapa semua terasa kurang.

Hati akan terus mencari. Hingga detak jantung dan pikiran otak berhenti. Saat dua kaki kaku dan tubuh ada di liang kubur. Sampai saat itu, hati akan terus simpang siur.

Sayang. Hati tak tahu. Ia tak diciptakan untuk menempati rumah. Bagaimana ia bisa pulang?

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: