Search

Midnight Malarkey

a peek inside the poetic freak

Tag

Life

I have learned to trust
That being is enough
That effort is merely social construct
That I will no longer let disrupt
What I am fundamentally 

Human
Being
Human being

What is the body but a compartment for stories
A manifestation of man’s want in seeking glory
Vessels in which purpose can validate its autonomy
In the form of a life-long journey

What are bones but phosphor and calcium
Chemical reactions that happen to be solid
In naked-eye form
Doesn’t mean it should steal legitimacy from
Concept and ideas built
By humans, with the mind as its guild

And what can you or I take from a train
Of undisturbed thoughts
Dripping drops of conceptual rain
Building blocks
Building our own version of reality

This is why man finds peace in nature
A reality we don’t need to ponder
An existence unquestioned
A systemized entity we may affect
But its inner workings remain undisturbed

It is here we find solace
Where our value isn’t based on solvency
Where the most urgent issue is only of survivability

 


April 1st 2017
@Nala Coffee, Serpong

Care to Live?

I made this, like, forty minutes ago. A friend chatted in a favor for his task. Well, it being to rhyme, why not? Plus, I’ll get a book out of this, albeit second-hand. Definitely a bargain. Muahaha!


Why trouble yourself when we see you dear? Why bring the brink of death so near? You’ve stumbled and tumbled and grumbled and fumbled through life, thinking all that there is is strife.

Kids called you names so obscene, and none intervened. But does that mean love is never to be seen?

You’ve gambled and scrambled to pay your dues. Left with nothing. You felt yourself screwed. But has it wounded your soul so? Is there nowhere and no one to go?

You think life lonely and hate it, but in death there’s only solitude. In life, find grace, but in death there’s no gratitude.

Think of me, think of we, think of us. Think of friends and family whom you trust. Are we not enough? Are we less worth than work? Aren’t we part of life’s perks?

Please don’t die. Please don’t bid life goodbye.

I care. We care. Can’t you see?

And to all who hear this—heed. There is always love when you need. All to do ‘tis seek. You’ll yet find life not so dreary, so meek.

Saya Memerlukan Seorang Guru

Dibuka: Lowongan untuk menjadi guru bagi anak bebal ini. Anda akan mendapat kesempatan memarahi dan mencaci, melebuh* dan membuat bertumbuh.

Gaji: Anda bisa menabur dan akan menuai kebaikan. Anda bisa merasa bersyukur dengan membandingkan. Anda akan mendapat teman berbincang yang cukup menyenangkan. Saya bukanlah anak berotak gemilang, namun saya bisa memberi perhatian dan menjadi pendengar. Sesekali, mungkin kita bisa bertukar bacaan. Lebih jarang kali, saat sedang beruntung, saya bisa memberi traktiran.

Kriteria: Cukup Anda hidup. Cukup dengan mau meluangkan waktu. Mengosongkan jadwal untuk satu sesi curhat panjang, atau setiap hari bertukar pesan dan menyelipkan nasihat sebelum malam menarik paksa dalam lelap. Saya tidak membatasi kriteria fisik. Saya tak peduli bila Anda baru berumur sepuluh atau sudah uzur.

Yang penting, Anda bisa mengajari saya sesuatu yang baru. Lebih baik jika ada dalam daftar di bawah garis berikut.


Ajari aku mencintai
seperti pasangan tua mencintai.
Dengan cara mereka sendiri
namun dapat membuat semua orang iri
karena semua mengetahui
apa yang mereka miliki
indah.

Ajari aku memaafkan
tanpa perlu
melukai terlebih dahulu.
Untuk mengingat
tanpa tersengat
oleh rasa sakit yang sama.

Ajari aku menghargai tiap detik yang telah diberi
tanpa merasa diburu-buru
atau harus menghabiskan setiap waktu
mencoba membuat atau mencapai sesuatu
hanya agar merasa diriku
produktif dan berharga.

Ajari aku hidup dengan integritas.
Supaya aku bisa hidup dalam batas
apa yang kutahu adalah benar, apa yang kupercaya.
Supaya tak menyeleweng ke dalam apa
yang bisa
membuatku mati binasa.

Ajari aku mengelola apa yang ada,
bersyukur atas apa yang aku bisa,
belajar dan berharap untuk apa yang kudamba.

Ajari aku mampu menerima sakit hati
dan bisa mempelajari
dari pengalaman
tanpa menutup diri dari
kesempatan
lain yang ditawarkan oleh kehidupan.

Ajari aku untuk peka akan hidup.
Untuk berani mengambil loncatan
dan keluar dari zona nyaman
karena aku pun bosan dengan keseharian
tanpa variasi
yang berarti.

Ajari aku untuk mengontrol emosi
tanpa mendiamkan apa yang diutarakan hati.
Aku ingin bisa menemukan titik imbang
antara perasaan dan akal pikiran.

Ajari aku menulis dan beropini,
berkata-kata apa adanya
dengan jujur.
Ajari aku agar bisa berkarya maksimal
tanpa membuat keinginan menulis menjadi binal.
Ingin aku bisa mengukir rima bernada
yang tak hanya puisi belaka
namun juga ada pesan di dalamnya.

Ajari aku itu semua
dan lebih banyak lagi.
Tentang apa yang seharusnya aku mampu
apa yang sebaiknya aku tahu
dan cara membedakan keduanya itu.

Ajari aku.
Tak apa bila akan memakan banyak waktu.
Aku memiliki seumur hidup untuk belajar,
jadi aku akan sabar dan menunggu.


Aku ingin bisa melakukan itu semua. Aku memerlukan guru untuk mengajari itu semua. Dan tanpa guru pun, hidup akan mengisahkan rahasianya padaku. Namun, alangkah baiknya jika aku sudah tahu terlebih dahulu.

Jadi, apakah Anda tertarik menjadi guru saya?


*lebuh: jalan besar (melebuhkan: membuka jalan)

Aku Menantikan Kematian

Aku memimpikannya terjadi dalam realita
sampai datang dalam bunga tidur yang terasa nyata
lalu berpikir, “inikah saatnya?”

Lalu aku bangun.

.

Banyak yang takut pada kematian,
tak terkecuali diriku.
Masuk akal karena kematian begitu asing,
menimbulkan aneka pertanyaan
berputar bagai gasing.

Ada yang takut karena tak tahu kemana mereka akan pergi,
dan apa yang anak ini ketahui tentang itu?
Ada yang takut karena konsep “tidak ada” tak mereka pahami,
namun bagiku ini bukan masalah eksistensi.

.

Bukan maksudku menyesali nafas yang diberikan,
namun saat hidup bukan lagi suatu keuntungan….

Apa yang tersisa selain kematian?

.

Aku membayangkannya terjadi dalam sebuah cerita:

Suatu hari, jantungku berhenti
berdetak begitu saja.

Banyak orang mendengar kabar,
segenggam yang datang,
satu-dua dengan bibir gemetar.

Siapa yang tersisa ricuh tentang
cara penguburan,
masalah undangan,
dan kepada siapa koleksi bukuku harus diberikan.

Pikiran yang, anehnya, menenteramkan.

.

Hidup itu berawal dari sebuah judi
tentang keluarga dan harta
dan tempat lahirmu di dunia.

Hidup itu berakhir
sebagai pos menuju kebakaan.

.

Lucu.
“Baka” berarti kekal
dan dalam bahasa Jepang berarti bodoh.
Seolah-olah mengatai orang yang merindukan kematian
—seolah mengataiku—
lugu.

.

Dalam kesadaran, aku memilih
setelah menimbang,
bahwa kematian mengerikan
sama seperti kehidupan.

Dan dalam tengah awal dan akhir
aku bukanlah pejudi yang mahir
karena malah duduk manis dan menunggu
keping kehidupanku untuk kembali diambil.

Mereka Tak Tahu Apa-Apa

Entah apa yang merasuki gue saat pergantian hari tadi, tapi gue mendadak memungut pensil dan menulis sebanyak ini dan selesai pukul setengah satu. Topiknya pun acak. Yasudahlah. Selamat membaca.


Mereka berkata kau harus seperti mentari
Senantiasa menyinari
Memberi kehidupan bagi bumi
Namun terik bukanlah sesuatu yang dicari
Terlebih saat siag hari
Aku lebih memilih menjadi kehangatan yang syahdu
Mengobati rindu
Dicari saat malam sendu, langit gelap kalbu
Dan jeritan hati bisu menebar pilu

Mereka berkata kita semua adalah bintang
Bola gas yang bercahaya benderang
Tau apa mereka tentang terang?
Sadari semua bintang akan mati
Atau menjadi bintik hampa tanpa isi

Dan semua pemenang?
Lebih baik kau diam
Selalu ada yang kalah dalam kehidupan
Tak usah kau cekoki bualan
Hanya agar dirimu merasa suci
Kau kira itu cara tepat memberi motivasi?
Memang kata-kata baik bermakna
Namun tak bisakah kau menghibur dengan lain cara?
Agar bekerja lebih giat mencapai kemenangan
Motivasi sesat itu hanya membuat godaan
Untuk terus mencari alasan
“Setidaknya sudah kucoba” “Mungkin belum saatnya”
Lalu kami tak lagi mencoba
Karena “Kemampuan semua orang memang berbeda”

Tahu apa kau tentang menjadi muda?
“Banyak!”
Ya, tapi masamu di lain era
Dan kini kita sama-sama tak tahu apa-apa

Kalian mengajari kami berkata tidak pada seks bebas
Menahan godaan rayuan buas
Lebih baik ajari kami tentang cinta yang berbatas
Atau berikan asupan kasih
Sehingga kami tak mencari sayang di tempat lain
Atau menjadi pengguna kokain
Atau terkena adiksi nikotin

Tahu apa mereka tentang hidup yang susah?
Banyak, dan kau tak beri tahu kami
Tak ingin membuat kami resah
Hingga saat dewasa menjemput kami tak tahu cara memisahkan teman dan bedebah
Semua pendidikan, sekolah dan kuliah
Hanya akan menjadi sampah

Karena kami dibiarkan tersesat di kehidupan
Hanya bisa pasrah mengikuti aturan
Lalu mendadak diberi kebebasan
Bukankah hewan liar yang dilepas sering ingin kembali?
Banyak yang tak mengerti hukum rimba dan mati
Jangan biarkan itu terjadi pada kami

Mereka berkata mereka tahu yang sempurna
Yang ku inginkan yang apa adanya
Apa gunanya kesempurnaan
Tatkala tak memberi kepuasan
Terlebih lagi kebahagiaan

“Anak hijau. Tahu apa kau disbanding kami yang sudah banting tulang?”
Memang hanya bocah aku
Tetapi aku yang ingusan pun tahu
Tentang konformitas yang menyesakkan
Tentang rutinitas yang membosankan
Tentang tawa yang menyenangkan
Tentang kesedihan yang mematikan

Untuk yang lain, aku tak mengerti
Maukah kau memberitahuku?
Aku akan mendengar sepenuh hati

Jangan berceramah tentang arti cinta
Cinta berbeda makna bagi setiap kita
Jangan berpetuah tentang beratnya hidup
Aku sudah tahu dan sudah cukup gugup

Beri tahu aku tentang tawa dan tangis
Jangan berkata “jangan sedih”
Beri tahu aku tentang gunanya emosi
Air mata ada gunanya
Tawa juga ada
Beritahu aku
Mengapa kita tak menyukai dua-duanya?

Jangan beri tahu aku cara mencari teman
Temani satu, yang lainnya jauhkan
Aku akan tetap tersakiti
Entah dikecewakan atau dikhianati
Bahkan mungkin ditinggal mati
Ajar aku untuk tetap membuka diri
Untuk bisa mempercayai orang lain lagi

Jangan suguhkan tentang persahabatan yang selamanya
Kebanyakan orang bermuka dua atau tiga
Bermulut manis di hadapan kita saja
Ajari aku untuk menerima hubungan kontrak kerja
Dimana kami tahu hubungan kami ada dasarnya
Seburuk apapun itu, lebih baik daripada mencari ikatan batin dan persaudaraan yang tak pernah ada
Lalu kecewa dan berbalik menghina
Seolah-olah di dunia belum cukup banyak drama

Aku tak mau menjadi buta
Hanya melihat tanpa bisa merasa
Melihat permukaan saja
Aku tak mau menjadi majal
Hanya bisa merasakan diri sendiri
Tak mempedulikan orang lain
Dan tak menyesal
Aku tak mau menjadi bisu
Begitu takut akan kritik hingga tak membuka suara
Aku tak mau tuli
Menganggap suara yang penting suaraku saja

Ajari aku menyeimbangkan segalanya

Jangan beri tahu lagi bahwa waktu berharga
Atau bagaimana menghabiskan sebaik-baiknya
Ajari aku menghargai detik yang berlalu
Tanpa harus merasa terburu-buru
Memperhitungkan segalanya di saat yang genting
Tanpa hilang pijakan atas apa yang penting

Aku ingin berguru pada yang tak tahu
Yang tahu jawaban tak hanya satu

Aku ingin diajar oleh mulut yang tegasa dan tajam
Bukan yang menganggap enteng pertanyaanku karena aku muda
Atau memberi tahu apa yang enak didengar saja

Ajari aku bertanya dan menganalisa
Tak berhenti di tahap membaca saja
Buat aku berpikir dan menemukan jawabanku sendiri
Namun tetap terbuka menerima opini
Ajarku untuk tak pernah berpuas diri
Namun ingatkan hal-hal yang patut kusyukuri

Agar aku bebas dari konformitas
Agar aku memiliki identitas
Menjadi manusia yang sadar
Menghadang dusta dan semu yang beredar

Agar aku tak jadi seperti mereka
Yang tidak tahu apa-apa

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: