Search

Midnight Malarkey

a peek inside the poetic freak

Tag

Loneliness

Dearest Confidant, #1

Maybe the reason I love you is because you’re the me I never could be. Half the thoughts and double the action, you have more capacity to execute, while I’m just good at giving reactions.

Maybe the reason you love me is because I’m the you you’ll never be. Half the emotional investment and double the rational force. I know you envy my ability to not feel guilt and think myself out of remorse.

Maybe the reason we love parts of each other shouldn’t matter. You still find me adorable and I find you lovable. The parts we want go with the parts we found and I don’t think I’ll regret anything if we’re ever in any way bound.

I love your heart. I love me loving your heart. I love me loving you heart enough to let me make word art.

You love my brain and the way I think. How I scoop you and won’t let you sink when you overthink. How my brain rationalizes rue and you see my logical links can be true.

Maybe the reason we love like this is because we’re each other’s counterpart. You, the wanderer who knows you need to travel to find answers. Me, the wonderer who answers and wants to question through travel. How I can calm some of your anxiety and you deepen the shades of grey to my reality.

Maybe that’s the reason we love each other like this—love really, never truly. And truly, I’d rather not have it any other way.

 

On a plane, 20th April 2017

8.11 pm

Kehilangan

Aku menemukan seseorang yang baru. Aku kehilangan rasa sepi. Heran. Keduanya terjadi di saat yang bersamaan.  Bukannya menjadi netral, sepertinya hidupku malah kehilangan keseimbangan.

Dalam cara yang paling membahagiakan.

Aku kehilangan waktu untuk diri sendiri karena terpana pada angka dua. Kehilangan waktu tidur, terkejut akan perubahan yang begitu akut.

Aku kehilangan kewaspadaan saat berkelana di malam hari karena menemukan pelindung. Kehilangan bantal empuk karena dimonopoli kepala yang bersandar di atasnya. Di sebelahku.

Aku kehilangan inspirasi melankolis, digantikan sendu bermimpi dalam rindu.

Aku menemukan kebaikan dalam kehilangan. Sesungguhnya, tak semua kehilangan tak baik.

Misalnya….

Aku kehilangan kebiasaan “satu” karena menemukanmu.

A Different Kind of Lonely

This is a different kind of lonely. One not so bitter, hardly as sweet. Not the same alertness at night, no crazy thoughts revealing themselves to my sight.

When I’m lonely, I communicate. My lips stay sealed, my fingers create. Nothing much, just a word or two. Or a page of sub-par poetry, posted to be read by you.

My kind of lonely is just right. Just like how I like coffee. Bitter enough to flatten my lips as though awkwardly receiving a kiss. Sweet enough to tingle the tongue tip’s taste buds. Bitter enough to make me fill hollowed. Sweet enough to know the hollow will be filled.

Or hearing a single howl of a wolf that knows somewhere, something heard it make a sound.

My kind of lonely is beautifully painful, painfully hopeful, hopefully beautiful in its end. My lonely is not alone in the world. My lonely is not lonesome. My kind of lonely has company—not to fill it, but to share it.

My kind of lonely is longing for people. Glimpses of the past. You know you can’t cure it, but you can subdue it. It’ll heal with time and grow better with the bitter it contains. Like how grapes with dust-like fungi make the best-tasting wine.

But this new kind of loneliness? It’s this one:

7478-loneliness-does-not-come-from-having-no-people-around-you-but

It’s the kind of lonely grown from non-consented silence. It’s the kind of lonely that spurs hatred, as the feeling becomes a tyrant. It’s the kind of lonely that chains your mental tongue to the back of your mental mouth. It takes the will from fingers to caress the keyboard, reluctant to press its calloused tips on the stem of a pen.

This type of lonely is when you open your mouth and try to scream. And even if the words do come out, it never lands on another’s ear.

This is a different kind of lonely. One I’m not accustomed to. I’m still learning its ways and starting anew. I’m still comparing it with coffee and little things I do. Just so I can get back and type again and pour it all down to get rid of my frown.

This kind of lonely is laced with laughter amongst friends. That seeps as an afterthought in every tear when something beautiful ends. This kind of lonely finds me lost in nostalgia of longing for something I actually know.

This kind of lonely will take some getting used to. New, different things do. Adjusting will be the only part of this that’s not new.

Kau tak perlu membelakangiku
Atau menyembunyikan wajahmu
Aku tahu
Kau takkan tersenyum lagi bersamaku

Dulu kau senang mengumbarnya
Tawamu
Senyummu
Binar matamu
Seolah berkata….

“Lihatlah, dunia! Aku bahagia! Senang bersama dia!”
Dan “dia” adalah aku

Tetapi sekarang segalanya hanya kenangan
Kau bukan lagi orang yang kukenal
Tanpaku… kau malah kembali tersenyum

Pernah ada masa
Kita memiliki dunia berdua
Sekalipun di tengah keramaian

Kini
Aku mengejar bayangan

Sejujurnya
Aku belum siap
Menghadapi hidup

Sendirian

2 Juli 2014
Untuk lomba yang sudah berakhir.
Lebih baik diunggah
sebelum lupa.

Sesungguhnya gue nggak tahu kenapa bisa menulis begini tengah malam tadi. Entah ini atas desakan apa, untuk siapa… gue nggak tahu. Yang pasti saat gue susah tidur karena ingin menulis lima kalimat pertama di atas kertas, pensil gue menggoreskan dirinya. Dan jadilah lamunan tengah malam ini. Selamat menikmati. :)


Ia seperti bintang kecil yang tertutup polusi. Kau perlu mencari sampai tak ada lagi ramai. Barulah ia memperlihatkan kerlipnya.

Ia tak terkenal, tak menjadi buah bibir banyak orang. Namun ia menjadi yang pertama yang ku cari kala malam datang.

Binarnya tak terlalu terang. Rapuh, malah. Namun, itulah yang membuatnya nampak kian indah. Tiap kerlip bagai degup jantung. Bisikan bisu yang hampir tetapi tak pernah sampai di telingaku. Biarlah. Biar apapun itu menjadi rahasia. Sama seperti ia adalah rahasia yang tak ingin kubagi.

Bintang kecilku tak ada namanya. Lalu bagaimana aku mengenalnya? Dengan melihat. Ia selalu sendiri. Walau ku tahu jarak antar bintang tak terbayang, ia selalu terlihat kesepian. Mungkin itulah alasan aku menemaninya. Saling mengusir sepi. Tanpa sepatah kata pun terucap.

Kau tahu? Berteman dengan bintang memang menyenangkan. Namun aku takut.

Aku takut kehadirannya saja takkan cukup. Padahal aku tahu pasti jika aku mencoba mendekat aku akan terbakar.

Aku takut kehadirannya bahkan tak terasa. Ia akan selalu terlihat dalam gelap, tetapi bagaimana cara melihatnya dalam silau terang?

Aku takut orang lain akan menemukannya. Diam-diam, ia akan membagi waktunya, tak hanya untukku seorang. Terlebih jika bintang lain muncul di dekatnya dan ia tak menginginkanku lagi.

Aku takut suatu saat nanti aku akan berhenti mencarimu. Lalu kau berhenti menungguku. Lalu aku tak mampu lagi membedakan kerlipmu.

Aku takut suatu hari nanti cahayamu mati. Dan aku tak akan tahu sebelum semuanya terlambat. Kau telah lama pergi dan aku menganggapmu masih ada.

Bintang kecilku, berjanjilah sesuatu padaku.

Jangan pergi.

Explain to me
Why did you leave me?
Words will never be sufficient
But action is also futile

Leave, then. Go!
Let me wallow
in pain and sorrow
And as you go,
know
this:

I’ll never be the same
Without your mind games

Describe
Prescribe
Medication for this illness
called loneliness

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: