Search

Midnight Malarkey

a peek inside the poetic freak

Tag

Memories

Why I Write

You were right
That I write
About so many things
Facts and feelings

You were right
That I write
But you don’t know why
I keep this habit of mine

I’m a little broken
Heart, spirit, soul
And words flow out like a stream
Out of the unplugged cracks and holes

Words help me make sense when I don’t
They comfort me when people won’t
They speak for me when the tears won’t come out
When no one will listen even if I shout

You were right
That I write
Out goes my hidden skeletons
Hidden in metaphors and comparisons

You were right
I write
To filter out what to say
So people won’t ever get away
With anything to talk back against me

I write
To filter out those who stay
I go back and reflect
Figure out the people who crept
Out or in my life
And the ones worth it have I kept

I write
Because my voice isn’t as strong
As ink is on paper
With lack of an eraser
It will stay longer than my little squeak
It won’t show if my tone is meek

I write
Because at 3 am
No one’s up to hear my rant
When the voices are so loud it forbids me from sleep
Or worse, so silent

I write
To get my feelings out
To quiet down the memories
That my mind won’t stop to spout
So unrelenting
So threatening
To my sanity

You were right
When you said I write

But you had no idea why

Sejumlah Surat

Untuk: Yang pergi, ditulis saat melarikan diri.


#1—00.30

Aku tahu
kau bukan segalanya untuk
diriku
bukan apa-apa untukmu.

Aku tahu kau tak
pernah istimewa
di hatiku
selalu ada dirimu
layaknya benalu.

Kau membuatkau resah karena
kelakuanmu
membuatku tertawa
terhadap kebodohanku.

Tetapi rasa ini
luar biasa
menyebalkan sekali
pun aku marah juga
tak bisa marah padamu.

Apa ini teka-teki yang
para pujangga akui
kumatnya kinerja hati
adalah sumber inspirasi.

Maka, aku menulis
tentangmu yang tak peduli
tentangku yang bermimpi
tentang kita
tak ada cerita, hanya kenangan
sedu sedan yang kutumpahkan
kala memutar balik
khayalan indah
yang sebenarnya konyol juga.

 


 

#2—01.12

Apa kau tahu aku menulis dengan cara yang berbeda tentangmu? muluk-muluk, campur aduk, dengan hati lelah dan jemari yang tak pernah mengantuk.

Apa kau tahu aku menulis dengan cara yang berbeda karenamu? Aku tahu akan tercebur, dan karena tulisanku jujur, coretan tentangmu kucoret juga. Tentangmu, aku tak takut membuat kesalahan.

Apa kau tahu perasaanku saat menulis tentangmu? Tak karuan. Tentangmu, rasanya aku kehabisan kata-kata. Bahagia, sedih, mara. Mungkin…  cinta? Ah, entahlah.

Apa kau tahu perasaanku saat menulis tentangmu? Kaget, karena tulisanku adalah ungkapan—validasi bahwa kau berarti. Senang saat tahu bahwa hati ini berfungsi. Lega, sungguh lega, karena bisa menulis. Takut, karena sejak perjumpaan, tulisanku sudah menyinggung kerelaan. Seolah-olah aku memang ingin meloncat ke tahap patah hati atau perpisahan.

Apa kau tahu alsanku menulis tentangmu? Agar aku ingat bahwa pernah ada masa saat aku merasakan hal indah. Aku ragu sekarang masih mempercayainya, namun kala itu aku yakin bahwa menulis akan membuatku tabah.

Apa kau tahu alasanku menulis karenamu? Malu, karena tak biasa. Senang atas hal yang kurasa. Agar bisa kuutarakan lebih rapi agar kau mengerti. Agar bisa kuutarakan karena—ternyata, haruskah ku ragu?—kau tak mau mengerti.


Semarang, 27 Juni 2016
—Yang masih merindu

You are the picture I paint with clear
Water running down my cheeks
Your name, a silencing word
The face I’ve come accustomed to seek

May you be a lesson well learned
To find the good
In finding peace when I’ve failed
Gaining for what I yearned
So I may say my byes

You’re a word I write over and over again
Not quite getting the curves round
The North in my compass
Set forth did my heart
To you it was bound

I pray I find my peace soon
Too long the clouds of gloom have loomed
And I know you’ll be a sweet memory
Somewhere in the future
Somewhen far

A little treasure I’ve held on too tight
I gave myself a fright
Not sure if my brain thinks you’re worth it
But fate thinks you are

Are
Were
Have been
Had been

Now, still…
My love

How You Remind Me

I miss feeling my heart beat
Responding every time you’re nearby
And how it reminds me
That I’m still alive

I like the way my head goes quiet
When we just lean against each other in silence
Or have small chats
When I remember the words they give me a fuzzy feeling
Like looking at pictures of cute cats

I remember your skin’s slightly stinging scent
How it pierces through even your cologne
I’m reminded that you’re one of the increasingly few
People who stick to being you

I miss your hand against my head
My head against your lap
I’m ever reminded in your absence
I’ve memorized the ache

I miss feeling your warmth
And my warmth when I’m with you
I don’t think I’ve ever liked better
The number two

I remember feeling alone
Before you came along
Just as I’ve often felt before
But I don’t think I’ve ever recalled by
Being left
Being so forlorn

I like to remember how I felt
“This is nice. I could get used to this.”
I remembered my fears
I remembered that little voice in my ear
“This won’t last, do you hear?”

I’m ever remembering how much you mean to me
And yet, I ever wonder
How could you come into the life of a being
So used to being
Solitary
And leave me feeling lonely

Aku tahu
Kau ingin aku tersenyum
Tetapi aku tak bisa
Maaf kalau kau kecewa

Aku tak pernah malu menjadi diri sendiri
Memamerkan gigi
Bersenang-senang
Berpetualang

Bersamamu

Rasanya begitu tepat
Denganmu, waktu berjalan cepat
Kupikir kita akan begini selamanya

Aku salah….

Entahlah
Mungkin aku berubah
Mungkin aku perlu sendiri saja

Jujur,
akan selalu ada kenangan tentangmu
Tetapi kenangan tak lebih dari bayangan

Mungkin aku bosan?

Entahlah…. maaf

Selamat tinggal

2 Juli 2014
Untuk lomba yang sudah berakhir.
Lebih baik diunggah
sebelum lupa.

Kau tak perlu membelakangiku
Atau menyembunyikan wajahmu
Aku tahu
Kau takkan tersenyum lagi bersamaku

Dulu kau senang mengumbarnya
Tawamu
Senyummu
Binar matamu
Seolah berkata….

“Lihatlah, dunia! Aku bahagia! Senang bersama dia!”
Dan “dia” adalah aku

Tetapi sekarang segalanya hanya kenangan
Kau bukan lagi orang yang kukenal
Tanpaku… kau malah kembali tersenyum

Pernah ada masa
Kita memiliki dunia berdua
Sekalipun di tengah keramaian

Kini
Aku mengejar bayangan

Sejujurnya
Aku belum siap
Menghadapi hidup

Sendirian

2 Juli 2014
Untuk lomba yang sudah berakhir.
Lebih baik diunggah
sebelum lupa.

Dengung jam membawaku
Ke masa yang telah lalu
Bunyinya mendayu-dayu
Tik… tok… tik… tok… tik….
Gerak jarum yang mendiamkan
Mengisi benakku dengan kenangan

Langkahmu di lorong-lorong yang tak lagi terdengar
Hening yang lebih banyak mengisi kekosongan kelakar
Semua akan terjadi, kita tak bisa menghindar
Dari sepi yang mengiringi sebuah kepergian

Tiap hal yang kau bawa mengandung ingatan
Baju yang kau pakai dalam suatu perjalanan
Atau sesuatu yang diberikan
Dan semuanya berharga
Dan semuanya penting

Dan saat semua sudah ada dalam jinjingan
Ada satu lagi hal tentangmu yang terhapuskan
Kehadiran

Namun di malam-malam sunyi kenangan akan menyesap
Rasa rindu bercampur haru yang membuat sesak
Akan suatu sosok yang pernah mengisi hari dan waktu
Dan sosok itu adalah dirimu

Ditulis 18 November 2014
saat kesadaran pertama kali ada
bahwa semua takkan lagi sama

Pengenang yang Enggan

Rintik hujan menanda rindu
Menadah damba karena pilu
Rasa ingin bertemu

Kau muat kisah dalam kotak
Kau biarkan lepas
Terhempas
Ke masa lalu

Ah
Andai aku bisa begitu

Jangan sungkan mengiyakan
Apa yang rumput bergoyang
Sudah tahu

Karena bahkan angin bertiup
Kabar tentang kau yang jarang kembali
Dan aku yang tak pernah pergi

Juga tentang engganmu
Melihatku
Karena kau sudah menemukan
Tempat berbagi tawa yang baru

Sungguh, aku tak keberatan
Lebih baik begitu
Ketimbang rencana temu
Yang hanya diwacanakan

Maka biarkan saja
Hujan terus turun
Tiap rintik menggerus kenanganmu

Perlu kau tahu
Untuk menjaga kenangan
Cukup satu

Cukup aku

 

13 Februari 2015
Kala menanti hujan reda di ADC
Mengingat yang suka melupa

Kintakamu

Di tengah malam
Kala membuka gerbang menuju lembah kenangan
Kau menyelinap bagai bunga liar
Kuntum yang tak ingin ku petik
Mau ku cabut namun tekad tak terbersit
Maka ku tinggal di pinggiran
Untuk bertumbuh, berakar

Mengingatmu merupakan perkara pelik
Dalam tiap pengertiannya
Aneh, jarang, rumit
Indah
Oksimoron… seperti adanya
Apa kau ingat?

Semua tentangmu
Tersimpan rapat
Bagian terisolasi dan tertutup waktu
Tetapi apik bagai kotak deposit baru

Kintaka*
Di bawah kata “rindu”

Acap kali menulis tentang apa saja
Dua ujung lengkung di wajahku terangkat
Heran dan diam-diam menghujat
Diri sendiri
Karena kau masih menjadi alasanku menulis

Tahukah kau?
Kendati segala
Hati tetap mencinta

Dulu kamu
Lalu kau yang lalu
Lalu imaji yang terbentuk oleh bunga tidur
Sekarang akan pengaruhmu padaku

Karena dalam konteks kepemilikan
Aku ini
Jalang

Dan kau… dengan segala kebebasanmu
Membuatku ragu
Karena bagaimana caranya menyebut kendali
Tak ubahnya sangkar
Bila rangkulan bisa menyentak
Menyadarkanku akan jantung yang berdetak
Dan aku merasa hidup?

Kau membuat definisi bebas menjadi sukar
Membuatku suka
Pada gagasan
Batasan
Menjadikan hidup
Tak berpias

.

Tulisan ini berwatasmu**
Seperti banyak hasil guratanmu

Kau ini pujangga
Bagian berima masa lalu
Yang terkadang terngiang-ngiang secara samar di telinga
Tercium sekilas bagai bunga yang ku temu
Saat berjalan lalu

Tulisan ini tentangmu
Terlebih lagi tentangku
Yang kecewa sekaligus lega
Menemukan tak sekadar sarafku yang bisa merasa

Tulisan ini surat untukmu
Yang menumpuk
Tak akan pernah sampai
Karena si penulis
Tak mau menutup amplop yang terbuka
Mengirimnya untuk kau baca
Dan membuatku kehilangan
Satu lagi arsip
Lamunan tengah malamku
Kala mendamba masa lalu

Tulisan ini kutaruh
Di bawah kata “rindu”
Dalam pusat poros angan
Dari distorsi ingatan

Tulisan ini kutaruh
Dalam kintaka
Di bawah kata “cinta?”
Dan di bagian “hal-hal yang membuatku tersenyum”
Dalam sebuah berkas tebal
Bertuliskan inisial namamu

 


 

 

*kintaka: arsip
** watas: batasan

Hantu Semu

Kau seperti hantu semu. Apa kau tahu maksudku?

Maksudku, kau membayang-bayangi bagai hantu. Tetapi kau bukan benar-benar hantu, bukan? Hanya bayangan yang benar-benar semu.

Pertama kau menanamkan dirimu dalam benak. Perlahan tapi pasti, semua bertingkah seolah-olah kau masih di sini. Aneh, cara kerja penyangkalan akan realita bermacam-macam. Cara hidup yang sama berlangsung, hanya seakan-akan kau sedang berada di ruang lain. Dan memang kau “hanya” berada di ruang lain. Yang jauh. Sangat, sangat jauh.

Kedua, kau mulai hadir dalam berbagai media. Seolah-olah kau masih ada. Memang kau ada—bukan itu maksudku. Maksudku… kau tahu, ada bersama kami. Berinteraksi secara langsung dengan kami.

Perlahan, kau terlupakan. Setidaknya dari benakku. Namun kau hadir—dalam obrolan dan candaan.

I’ve walked these paths with you.
Once, long ago.
We thought we’d walk these streets again.
At least, thought so.

Some things haven’t changed;
the busy people,
the tourists, gleeful.
But I’ve changed,
and so have you.

You weren’t here with your smile
or your bitchy attitude.
I admit, I miss your sarcasm
also talking with you for interludes
of time.

Of time
they say
change will take place
within it and space.

I saw it coming,
I saw this coming
—I saw you weren’t coming.

Is it so hard to relive memories
that you choose to let them sink in your own abyss?
Is it so difficult to face those you once knew
or have you chosen to throw us away too?

I know you.
I know your type.

You’re the type who buries
the past in treasuries
and keep them in a safe
so they’ll be safe
but never opened again.

You’re the type who’d rather move on
and wouldn’t like to linger on
to things that you think would hold you back,
from things that would set you off track.

It’s time, I guess, to let go
of all the good things we used to know
and share together
and laugh at together.

I always knew
it could never last forever.

Thoughts: Memory Wipe

I’m sure we all know that the past contains memories, both good and bad. I’m sure we all have those days when we wish we could just make the bad ones go away. I’m sure you can all relate to this:

Right? Right? Am I right or what?

The things is, I would never want to wipe out my memories. So far, anyway. You have to take the good and bad in life. Like coffee or chocolate—bittersweet in all its glory. It’s like eating Oreos. You can lick the cream first then the biscuit, or eat the biscuit first, or taste both in a bite. Either way, if you want the whole thing, you need to eat the whole thing and taste both sides.

Same as life—to truly live, you must take the good and bad in stride. The cliché “Life is a roller-coaster ride” is a cliché because it’s true.

“But it’s only the really bad ones I want to erase! Let’s say the technology exists, I won’t wipe out all of my happy or bad memories. I won’t erase my good ones with the horrible ones!”

Yeah, yeah, yeah, whatever. Try looking at the pic below to guess what I’ll be blabbering about next.

I don’t know about you, but I highly agree with the quote. It’s not so much about the pain, it’s about what comes after it.

Like it or not, memories help to shape who you are. Wiping the good memories will make you lose a piece of you that you are now, so does wiping out the bad ones.

And especially the bad, specific ones. Memories are based on true incidents that resonate throughout your life, sometimes in the weirdest and most wonderful ways. Sometimes through reality slaps, or déjà vu. Other times, through things that remind you of those memories.

Memories are how we learn from mistakes, because we remember how bad it felt making those mistakes. It’s the reason for our being uncomfortable in new surroundings because our brain’s grasping for familiar things we can relate to but scarcely find any, but it’s also why we find home so… homey.

I know I’m rambling here, but I do hope you understand what I mean. Whenever I pause and relive my past, it’s the bad experiences that have shaped me the most. And I do get negative effects from those bad memories, but I’m also aware that those bad memories are the ones who have shaped what I like about myself the most.

So, there.

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: