Search

Midnight Malarkey

a peek inside the poetic freak

Tag

Writing

Once again I find myself
Sprawled on the floor
My tears, turned ink
Staining parched paper
Forming itself into words—such a painter

Once again I’m startled
To hear the grandfather clock strike
Hours past midnight
And my rhymes still unfinished

Advertisements

A List of “D” Words

Daisies
Dance
Dear
Deer
Diligence
Do
Dolls
Doughnuts
Dream


Day
Date
Discs
Descriptive
Domes
Drones
Due


Demotivated
Deprived
Desolate
Disconnected
Dismantled
Dismissed
Doomed
Drained
Dreary


 

It’s scary. Took me less than two minutes to think of nine “negative” words. Took me over ten minutes to match that number with “positive” ones.

My Name Is Poetry

My name is poetry
And I am the reason
Your heart wrenches, fast
Upon hearing angst
Against all reason
For things merely spoken

My name is poetry
And I’m the “why”
You people try
To find meaning
In between sounds that ring
Why you’re so adamant
To make these lines seem relevant

My name is poetry
And I’m the cause
For you to pour
Sweet, sweet honey
Dripping forth between your lips
Quenching the thirst to pour out your soul

My name is poetry
I am the thief that steals your sleep
Why at 2 am you’re awake
Ink staining your fingertips
A testimony of what’s unspoken
When you can no longer weep

My name is poetry
And I am just what I am
And that’s why you love me
That’s why you try to understand
Master every rhyme
Collect vocabulary as much as sand
Write like you’re out of time

My name is poetry
An activity, ideology
A way for your whole being to breathe
You may think you can meet me
Get a taste of me
Then leave

But my name is poetry
And I will consume you
Your feelings, thoughts, memories
And when you do me, I can see it in your eyes
How you feel so free, so fine
When the truth is, darling
You. Are. Mine.

Why I Write

You were right
That I write
About so many things
Facts and feelings

You were right
That I write
But you don’t know why
I keep this habit of mine

I’m a little broken
Heart, spirit, soul
And words flow out like a stream
Out of the unplugged cracks and holes

Words help me make sense when I don’t
They comfort me when people won’t
They speak for me when the tears won’t come out
When no one will listen even if I shout

You were right
That I write
Out goes my hidden skeletons
Hidden in metaphors and comparisons

You were right
I write
To filter out what to say
So people won’t ever get away
With anything to talk back against me

I write
To filter out those who stay
I go back and reflect
Figure out the people who crept
Out or in my life
And the ones worth it have I kept

I write
Because my voice isn’t as strong
As ink is on paper
With lack of an eraser
It will stay longer than my little squeak
It won’t show if my tone is meek

I write
Because at 3 am
No one’s up to hear my rant
When the voices are so loud it forbids me from sleep
Or worse, so silent

I write
To get my feelings out
To quiet down the memories
That my mind won’t stop to spout
So unrelenting
So threatening
To my sanity

You were right
When you said I write

But you had no idea why

A Different Kind of Lonely

This is a different kind of lonely. One not so bitter, hardly as sweet. Not the same alertness at night, no crazy thoughts revealing themselves to my sight.

When I’m lonely, I communicate. My lips stay sealed, my fingers create. Nothing much, just a word or two. Or a page of sub-par poetry, posted to be read by you.

My kind of lonely is just right. Just like how I like coffee. Bitter enough to flatten my lips as though awkwardly receiving a kiss. Sweet enough to tingle the tongue tip’s taste buds. Bitter enough to make me fill hollowed. Sweet enough to know the hollow will be filled.

Or hearing a single howl of a wolf that knows somewhere, something heard it make a sound.

My kind of lonely is beautifully painful, painfully hopeful, hopefully beautiful in its end. My lonely is not alone in the world. My lonely is not lonesome. My kind of lonely has company—not to fill it, but to share it.

My kind of lonely is longing for people. Glimpses of the past. You know you can’t cure it, but you can subdue it. It’ll heal with time and grow better with the bitter it contains. Like how grapes with dust-like fungi make the best-tasting wine.

But this new kind of loneliness? It’s this one:

7478-loneliness-does-not-come-from-having-no-people-around-you-but

It’s the kind of lonely grown from non-consented silence. It’s the kind of lonely that spurs hatred, as the feeling becomes a tyrant. It’s the kind of lonely that chains your mental tongue to the back of your mental mouth. It takes the will from fingers to caress the keyboard, reluctant to press its calloused tips on the stem of a pen.

This type of lonely is when you open your mouth and try to scream. And even if the words do come out, it never lands on another’s ear.

This is a different kind of lonely. One I’m not accustomed to. I’m still learning its ways and starting anew. I’m still comparing it with coffee and little things I do. Just so I can get back and type again and pour it all down to get rid of my frown.

This kind of lonely is laced with laughter amongst friends. That seeps as an afterthought in every tear when something beautiful ends. This kind of lonely finds me lost in nostalgia of longing for something I actually know.

This kind of lonely will take some getting used to. New, different things do. Adjusting will be the only part of this that’s not new.

Lara yang mengusik tertutup pelupuk, merembes lewat titik-titik tetes tinta, tertoreh tertata di atas kertas. Aku tak pernah menyukai duka kendati selalu menerima dengan tangan terbuka. Ia bagai tamu yang memecahkan barang, menyuruhku membereskan, tertawa kala aku tertusuk.

Nyeri yang gaib terkurung dalam bisu. Apa pula guna membagi pilu? Pun semua punya miliknya masing-masing. Hanya tubuh yang tahu, maka biar tangan bercerita apa yang ditimpa hati, didetakkan jantung, mengalir dalam pembuluh dan meyebar ke seluruh tubuh.

Lupakan ucap siapa yang mengaku ada untukmu. Niat boleh kuat namun apa mereka cukup sigap mencerna tiap kata? Aku memilih menulis. Meramu cara membuat orang lain tahu dan menjaga agar informasi ambigu. Tak sulit. Sungguh. Ada saatnya seseorang perlu menelan bulat-bulat, namun apa untung memaksa mengerti saat yang kau perlu hanya menyuarakan benakmu? Biar ku jawab: tidak.

Lara yang mengusik tertutup pelupuk. Biar jangan ada yang melihat air mata lalu bertanya-tanya. Jangan ada yang mencoba membuat lega hanya agar mereka sendiri tak perlu repot mengurus sakit.

Dua tangan ini—ya, mereka saja yang melantunkan nada rasa di atas tuts. Mereka saja yang menyebar kisah di dunia maya. Kisah beratapkan rima, beralaskan rasa, dan berdinding enigma.

Aku membiarkan bibirku menipu dengan senyum. Lebih mudah menjaga rahasia dengan begitu. Lebih hemat waktu. Kalian yang membaca ini: kalian yang “beruntung”. Kalian melihat risauku apa adanya. Kalian melihat sepotong diriku yang sepenuhnya jujur.

Saya Memerlukan Seorang Guru

Dibuka: Lowongan untuk menjadi guru bagi anak bebal ini. Anda akan mendapat kesempatan memarahi dan mencaci, melebuh* dan membuat bertumbuh.

Gaji: Anda bisa menabur dan akan menuai kebaikan. Anda bisa merasa bersyukur dengan membandingkan. Anda akan mendapat teman berbincang yang cukup menyenangkan. Saya bukanlah anak berotak gemilang, namun saya bisa memberi perhatian dan menjadi pendengar. Sesekali, mungkin kita bisa bertukar bacaan. Lebih jarang kali, saat sedang beruntung, saya bisa memberi traktiran.

Kriteria: Cukup Anda hidup. Cukup dengan mau meluangkan waktu. Mengosongkan jadwal untuk satu sesi curhat panjang, atau setiap hari bertukar pesan dan menyelipkan nasihat sebelum malam menarik paksa dalam lelap. Saya tidak membatasi kriteria fisik. Saya tak peduli bila Anda baru berumur sepuluh atau sudah uzur.

Yang penting, Anda bisa mengajari saya sesuatu yang baru. Lebih baik jika ada dalam daftar di bawah garis berikut.


Ajari aku mencintai
seperti pasangan tua mencintai.
Dengan cara mereka sendiri
namun dapat membuat semua orang iri
karena semua mengetahui
apa yang mereka miliki
indah.

Ajari aku memaafkan
tanpa perlu
melukai terlebih dahulu.
Untuk mengingat
tanpa tersengat
oleh rasa sakit yang sama.

Ajari aku menghargai tiap detik yang telah diberi
tanpa merasa diburu-buru
atau harus menghabiskan setiap waktu
mencoba membuat atau mencapai sesuatu
hanya agar merasa diriku
produktif dan berharga.

Ajari aku hidup dengan integritas.
Supaya aku bisa hidup dalam batas
apa yang kutahu adalah benar, apa yang kupercaya.
Supaya tak menyeleweng ke dalam apa
yang bisa
membuatku mati binasa.

Ajari aku mengelola apa yang ada,
bersyukur atas apa yang aku bisa,
belajar dan berharap untuk apa yang kudamba.

Ajari aku mampu menerima sakit hati
dan bisa mempelajari
dari pengalaman
tanpa menutup diri dari
kesempatan
lain yang ditawarkan oleh kehidupan.

Ajari aku untuk peka akan hidup.
Untuk berani mengambil loncatan
dan keluar dari zona nyaman
karena aku pun bosan dengan keseharian
tanpa variasi
yang berarti.

Ajari aku untuk mengontrol emosi
tanpa mendiamkan apa yang diutarakan hati.
Aku ingin bisa menemukan titik imbang
antara perasaan dan akal pikiran.

Ajari aku menulis dan beropini,
berkata-kata apa adanya
dengan jujur.
Ajari aku agar bisa berkarya maksimal
tanpa membuat keinginan menulis menjadi binal.
Ingin aku bisa mengukir rima bernada
yang tak hanya puisi belaka
namun juga ada pesan di dalamnya.

Ajari aku itu semua
dan lebih banyak lagi.
Tentang apa yang seharusnya aku mampu
apa yang sebaiknya aku tahu
dan cara membedakan keduanya itu.

Ajari aku.
Tak apa bila akan memakan banyak waktu.
Aku memiliki seumur hidup untuk belajar,
jadi aku akan sabar dan menunggu.


Aku ingin bisa melakukan itu semua. Aku memerlukan guru untuk mengajari itu semua. Dan tanpa guru pun, hidup akan mengisahkan rahasianya padaku. Namun, alangkah baiknya jika aku sudah tahu terlebih dahulu.

Jadi, apakah Anda tertarik menjadi guru saya?


*lebuh: jalan besar (melebuhkan: membuka jalan)

What We Write

If you know me well enough, you’ll support this next few words: I do quite the amount of editing for my friends, both in Indonesian and English. Nothing professional, just enough to pass tasks with decent grades and please those oh-so-beloved teachers and lecturers who give a damn about language and the proper use of it.

This thought has occurred to me multiple times in the past, but it never really dawned on me until today how much of ourselves we write down, whether personal or not.

I’ve always scolded myself when I rant about something too clearly on Twitter or WordPress when I don’t want to. I’ve even taken care not to be explicit in certain parts in my own private journal. An acquaintance pointed that out a while ago, so I checked. It’s true. Some of my personal writings are ambiguous to the point that I’m not even sure what it’s about. I guess I’m that insecure about what info I give out.

But that’s about things we’re quite aware of. You probably have friends who own a private blog or an alias unknown to most people they know. But this is a whole other level.

When you’re editing tasks or writing down something in passion, you’ll find out many people don’t pay attention to trifle things like who’s going to read it or if it’s too personal. I’ve found out things about my friends from their writings I’d never guess about them. A few have hidden talent in writing, others bring out things that aren’t exactly in secret, but people just don’t notice. Once in a while, something shocking comes along.

Editing a letter informed me that a former classmate planned to go to France for college (nope, it didn’t work out). One friend had me check her essays and stories multiple times; this is how I knew she had a penchant of writing melancholic love stories. Sometimes I get a peek into their personal relationships with family members. It’s one of the perks (well, most of the time) that comes with the privilege of reading what people write.

Sometimes, I get to see these people in a new light. School tasks aren’t necessarily rigid—it can be about you, things you love, and all those mushy, wonderful things. I learn more about these people: how they think, what they go through, their personality.

What I’m trying to say from these jumpy paragraphs is we write down (and post online) more than we think. When people write, they really do pour a piece of themselves.

Kintakamu

Di tengah malam
Kala membuka gerbang menuju lembah kenangan
Kau menyelinap bagai bunga liar
Kuntum yang tak ingin ku petik
Mau ku cabut namun tekad tak terbersit
Maka ku tinggal di pinggiran
Untuk bertumbuh, berakar

Mengingatmu merupakan perkara pelik
Dalam tiap pengertiannya
Aneh, jarang, rumit
Indah
Oksimoron… seperti adanya
Apa kau ingat?

Semua tentangmu
Tersimpan rapat
Bagian terisolasi dan tertutup waktu
Tetapi apik bagai kotak deposit baru

Kintaka*
Di bawah kata “rindu”

Acap kali menulis tentang apa saja
Dua ujung lengkung di wajahku terangkat
Heran dan diam-diam menghujat
Diri sendiri
Karena kau masih menjadi alasanku menulis

Tahukah kau?
Kendati segala
Hati tetap mencinta

Dulu kamu
Lalu kau yang lalu
Lalu imaji yang terbentuk oleh bunga tidur
Sekarang akan pengaruhmu padaku

Karena dalam konteks kepemilikan
Aku ini
Jalang

Dan kau… dengan segala kebebasanmu
Membuatku ragu
Karena bagaimana caranya menyebut kendali
Tak ubahnya sangkar
Bila rangkulan bisa menyentak
Menyadarkanku akan jantung yang berdetak
Dan aku merasa hidup?

Kau membuat definisi bebas menjadi sukar
Membuatku suka
Pada gagasan
Batasan
Menjadikan hidup
Tak berpias

.

Tulisan ini berwatasmu**
Seperti banyak hasil guratanmu

Kau ini pujangga
Bagian berima masa lalu
Yang terkadang terngiang-ngiang secara samar di telinga
Tercium sekilas bagai bunga yang ku temu
Saat berjalan lalu

Tulisan ini tentangmu
Terlebih lagi tentangku
Yang kecewa sekaligus lega
Menemukan tak sekadar sarafku yang bisa merasa

Tulisan ini surat untukmu
Yang menumpuk
Tak akan pernah sampai
Karena si penulis
Tak mau menutup amplop yang terbuka
Mengirimnya untuk kau baca
Dan membuatku kehilangan
Satu lagi arsip
Lamunan tengah malamku
Kala mendamba masa lalu

Tulisan ini kutaruh
Di bawah kata “rindu”
Dalam pusat poros angan
Dari distorsi ingatan

Tulisan ini kutaruh
Dalam kintaka
Di bawah kata “cinta?”
Dan di bagian “hal-hal yang membuatku tersenyum”
Dalam sebuah berkas tebal
Bertuliskan inisial namamu

 


 

 

*kintaka: arsip
** watas: batasan

Stiff

I try to move my fingers. They do. Just not the way I want them to.

I want to write. They tap themselves. Moving, but making my mind stand still. The idea then disappears. Dispersing into unfathomable scrapes, unable to endure the hollow that’s occupying me.

I want to type. They tap themselves. Pressing, but hitting all the wrong keys. Anything I want to pour out freezes. Dissolving into a distant thought, a fragment of what could’ve been written, unable to endure the frustration.

My fingers… they’ve gone stiff, I fear.

.

Help me.

Hampir Menulis

Ini bukan sebuah cerita yang akan terjadi. Bukan kisah yang sudah terjadi. Bukan luapan emosi yang menjadi-jadi. Namun tentang untaian cerita yang tak jadi.

Tak terhitung kali ku mengangkat alat tulis, mempersiapkan beberapa carik kertas, mencari tenang, lalu menunggu ide yang muncul tertuang. Juga saat jemari menari-nari tanpa arah pasti di atas tuts keyboard laptop. Hasilnya? Sejumlah guratan tak jelas. Lalu si penulis menatap, mendesah, dan berserah.

Manusia itu aneh. Kita dapat terobsesi pada satu kalimat dari seorang tokoh dalam suatu cerita. Menulisnya berulang-ulang di berbagai tempat, mengucapkannya bagai mantra, bahkan menorehnya di atas lapisan dermis secara permanen.

Manusia itu aneh. Kita dapat terobsesi pada suatu ide abstrak, sesuatu yang tak jelas. Memikirkannya selagi menunggu lelap menjemput, memikirkannya hingga lelap tak bisa menjemput. Mencoba menggapai untuk memahami, seperti seorang anak yang mengira ia bisa menggenggam bintang. Terasa begitu dekat namun tak tercapai. Mencoba mengerti, namun kerumitan gagasannya tak terurai.

Terkadang bagiku menulis seperti itu. Ada bagian diri yang ingin mengatakan sesuatu. Namun saat sepertinya memaklumi tanpa bisa memaklumkan sama dengan nol. Memiliki ide yang tak bisa dikembangkan atau dijual sama seperti mengumpulkan sampah. Frustasi mengendap setinggi tumpukan sobekan kertas yang menjadi remah-remah.

Saya termasuk dalam kategori manusia yang aneh. Memikirkan suatu ide yang saya anggap bagus, mencoba menuliskannya, lalu membiarkan tulisan itu lari dari tema. Bagai kereta yang berputar tanpa mengetahui destinasi. Membuat pembaca bingung dengan tulisan yang ambigu.

Maka, kini  saya hanya menodai kertas dengan satu titik. Lalu berhenti.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: